Connect with us

KHAZANAH

Sahabat Nabi Ini Menjadi Mata-matanya Pasukan Muslim

Published

on

ilustrasi

LENTERA.CO.ID — Hudzaifah ra mengatakan, bahwa dalam perang Khandak, di satu sisi, pasukan Muslim berhadapan dengan orang-orang kafir Makkah yang dibantu oleh orang-orang kafir lainnya. Di sisi lainnya, mereka menghadapi Bani Quraidzah, kaum Yahudi Madinah, yang setiap saat siap menyerang jika Madinah kosong. Mereka pasti akan menyerang keluarga kaum Muslimin juga.

Dikisahkan dari Buku yang berjudul “Himpunan Fadhilah Amal” karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi Rah.a., bahwa ketika itu, pasukan Muslim sedang menghadapi pertempuran di luar Madinah. Orang-orang munafik meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk meninggalkan peperangan dengan alasan rumahnya kosong dan dalam keadaan bahaya. Rasullah SAW pun mengizinkan mereka.

Bersamaan dengan itu, malam begitu gelap dan datang angin topan dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya, juga sesudahnya. Jangankan untuk melihat orang lain, melihat tangan sendiri pun tidak dapat, karena begitu gelapnya. Halilintar sangat kuat menyambar diiringi gemuruh keras. Orang-orang munafik sagera melarikan diri ke rumah masing-masing.

Sedangkan kaum Muslimin tinggal tiga ratus orang yang tetap berada di tempat itu. Terhadap kejadian itu, Rasullah SAW menenangkan mereka satu persatu. Kemudian Beliau lewat di depan Hudzaifah. Ketika itu Hudzaifah tidak memiliki senjata unuk melawan musuh, juga tidak memiliki kain untuk berlindung dari udara dingin. Hanya ada sedikit kain yang dapat menutupi anggota badan yang penting hingga ke lutut, itu pun milik istrinya.

Ia duduk menelungkup ke tanah, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, ”Siapa kamu?” Ia menjawab, “Hudzaifah.” Karena dingin dan malu, ia tidak dapat berdiri dan tetap duduk terlengkup. Rasullah SAW bersabda, ”Hudzaifah, berdirilah! Pergilah ke tempat musuh, lalu bawalah berita yang sedang terjadi di sana.”

Pada waktu itu, ia sedang sangat ketakutan dan kedinginan yang luar biasa. Namun, karena demi menunaikan perintah Rasullah SAW, ia segara pergi. Ketika ia pergi, Rasullah SAW berdoa,”Ya Allah, jagalah ia dari arah depan, belakang, samping kanan, dan samping kiri, dari atas dan dari bawah.”

Hudzaifah ra berkata, “Setelah Rasullah berdoa untukku, rasa takut langsung hilang dari diriku, begitu pula dingin yang ada pada diriku. Setiap melangkah, aku merasa seolah-olah berjalan dalam kehangatan. Rasullah SAW juga berpesan agar aku jangan melakukan apa pun yang terjadi, dan segera kembali lagi.”

Setibanya di sana, ia lihat api unggun sedang menyala. Orang-orag mengelilingi api unggun sambil memanaskan tangan mereka di dekat api, lalu digosokkan ke perut mereka. Tiba-tiba, dari setiap penjuru terdengar seruan, “Kembali, kembali!” Setiap orang menyeru agar kebilah segera kembali, karena tiba-tiba datang angin ribut dari empat arah, dengan hujan batu yang menghujani kemah-kemah. Tali-tali kemah musuh pun terputus, sedangkan kuda dan hewan lainnya banyak yang mati.

Abu Sufyan yang pada saat itu sebagai pimpinan rombongan kaum kafir sedang memanaskan kedua tangannya di atas api. Dalam hati Hudzaifah ra berkata, “Inilah kesempatan yang terbaik bagiku untuk membinasakannya.” Ia segera mengambil anak panah, lalu meletakannya di busurnya.

Namun, ia teringat pesan Rasullah SAW agar tidak melakukan tindakan apa pun kecuai melihat keadaan saja, lalu segera kembali. Maka, ia masukkan kembali anak panah itu ke tempatnya. Orang-orang kafir mulai mencurigai kehadirannya. Mereka berkata “Adakah di anatara kalian seorang mata-mata? Setiap orang hendaklah memegang tangan orang yang di sebelahnya.” Lantas orang di sebelahnya berkata, “Kamu siapa?” Jawab Hudzaifah, “Masa kamu tidak tahu siapa aku, aku ini fulan.” Lalu ia segera meninggalkan tempat itu.

Ketika menempuh setengah perjalanan, ia bertemu dengan serombongan penunggang kuda sekitar dua puluh orang yang semuanya memakai sorban. Mereka berkata kepada Hudzaifah ra, ”Beritahukan kepada tuanmu bahwa Allah telah membereskan musuh-musuh itu, jadi tidak usah khawatir lagi.”

Ketika kembli ke kemah, ia melihat Rasullah SAW sedang shalat dengan selimut di tubuhnya. Inilah kebiasaan Beliau yang mulia. Dalam keadaan genting, Beliau selalu bertawajuh dengan mendirikan shalat.

Selesai shalat, ia menceritakan kepada Beliau kejadian selama menjadi mata-mata tadi. Rasullah SAW tersenyum dengan giginya yang cemerlang lalu ia disuruh berbaring di dekat kakinya yang Mulia, dan ia diselimuti dengan sebagian selimutnya. Ia tempelkan dadanya ke telapak kaki Beliau SAW.

Source: mROL

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BERITA UTAMA

Bagaimana Hukum Bernyanyi dalam Islam

Published

on

ilustrasi

LENTERA.CO.ID — Abu Daud meriwayatkan sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud dimana sanadnya sampai kepada seorang Syaikh. Katanya “Aku pernah mendengar Nabi bersabda, ‘sesungguhnya, nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati.”

Namun hadist ini lemah karena tidak diketahui siapa Syaikh yang dimaksud.

Abu Malik al-Asy’ariy berkata bahwa Nabi bersabda, “Akan ada kelompok dari umatku yang meminum khamr namun mereka menamakannya dengan nama lain, sambil mendengarkan lantunan musik dan nyanyian para biduanita. Sebagai akibatnya, bumi akan dimusnahkan oleh Allah.” (HR. Ahmad, an-Nasai, Abu Daud dan Ibnu Majah)

Hadist ini pun belum kuat karena awal pembicaraannya tentang khamr. Maka terdapat hadist lain pula yang sekiranya mampu menguatkan.

Hadist yang paling penting dalam konteks ini mungkin adalah yang diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq (menyandarkan kepada perawi lain). Dari Abu Malik al-Asy’ari yang mendengar Nabi bersabda, “Akan ada diantara umatku orang-orang yang menghalalkan sutera (untuk kaum pria) dan permainan musik.”

Namun sangat disayangkan hadist terhadap nyanyian itu sendiri tidak ada yang shahih. Hasil akhirnya ditentukan jika Allah tidak menyukai umatnya membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting. Tetapi jika musik yang dilakukan membuat kita teringat kematian dan sang pencipta, kenapa tidak.

Wallahu’alam bissowab. []

Sumber: Sunnah Nabi dalam Pandangan Ahli Fikih dan Ahli Hadits/Penulis: Muhammad Al-Ghazali/ Penerbit: Khatulistiwa Press,2008 (islampost)

Continue Reading

BERITA UTAMA

Orang Dzalim, ini Balasannya

Published

on

ilustrasi

LENTERA.CO.ID — SETIAP manusia memiliki karakter atau pun perilaku yang berbeda. Tak semua manusia di muka bumi ini bersifat baik. Ada pula orang yang memang memiliki perilaku tidak baik, yang selalu membuat orang lain sengsara. Hal ini akibat pengaruh lingkungan yang berbeda-beda pula. Karena bukan hanya bawaan dari lahir, perilaku seseorang juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan.

Salah satu perbuatan yang tidak baik, yang sering dilakukan adalah mendzalimi orang lain. Tak sedikit orang-orang yang mengalami rasa sakit di hati akibat didzalimi. Orang-orang yang didzalimi inilah, yang ketika ia berdoa insya Allah diijabah. Tapi, mengapa ya terkadang doa itu tak terkabul?

Ketika Anda merasa didzalimi dan Anda berdoa kepada Allah agar orang yang mendzalimi itu mendapat balasan, ternyata tidak dikabulkan, maka janganlah Anda menganggap Allah tidak mengabulkan doa Anda. Anda jangan cepat-cepat mengira bahwa pintu langit tertutup bagi Anda. Dan juga jangan mengira bahwa Anda tidak mendapat pembelaan dari Allah SWT hanya karena doa Anda itu tidak dikabul.

Sebenarnya Allah SWT itu telah mengabulkan doa Anda. Dan Allah telah memilih orang yang lebih mampu dari Anda untuk membalasnya. Hal inilah yang harus Anda yakini.

Memang, banyak orang yang bertanya, “Mengapa bukan Allah yang membalas dengan segera? Mengapa kami tidak bisa bertindak terhadap orang-orang yang mendzalimi kami?”

Jawabannya yaitu Allah tidak segera bertindak, karena Allah akan menugaskan orang yang lebih mampu dari Anda untuk melaksanakannya. Apa yang Allah lakukan pasti bakal mengejutkan Anda dengan cara yang belum pernah Anda bayangkan dan perhitungkan.

Allah SWT berfirman, “Maka Allah mendatangkan kepada mereka hukuman dari arah yang tidak mereka sangka-sangka,” (QS. Al-Hasyr: 2).

Itulah balasan yang akan diterima bagi orang-orang dzalim. Mereka akan mendapatkan hukuman di luar perkiraannya. Bukan hanya di akhirat, tapi di dunia pun kesengsaraan hidup akan juga mereka rasakan. Oleh karena itu, jadilah orang-orang yang berbudi baik pada orang lain. Jagalah diri kita, terutama hawa nafsu. Berpikirlah sebelum bertindak agar hal-hal yang akan menyakiti orang lain tidak keluar dari diri kita, terutama lisan kita. []

Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab/Karya: Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi/Penerbit: Gema Insani (islampost)

Continue Reading

KHAZANAH

Tiga Karya Monumental al-Farabi

Published

on

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy Nasrul

Filosof Muslim Abu Nasr al-Farabi (870-950) dikenal karena kemampuannya menyinergikan berbagai pemikiran filosofis yang dianggap bertentangan. Penerus al-Kindi bergelar guru kedua atau al-Muallim as-Sani ini memiliki banyak karya tulis yang menjadi rujukan ilmuwan Barat. Tiga di antaranya adalah sebagai berikut.

Mempertemukan Plato dan Aristoteles
Ilmuwan dari kata Farab yang kini masuk Kazakhstan ini adalah orang pertama yang menggabungkan pemikiran dua filosof Plato dan Aristoteles. Dalam bukunya al-Jam’u bayna Ra’yay al-Hakimayn, dia menilai kedua filosof itu sama-sama membahas ketuhanan. Keduanya menyatu dalam kesamaan tentang adanya zat yang melebihi kemampuan manusia sehingga menjadi objek penyembahan.

Kitab tersebut menjadi rujukan ilmuwan Muslim setelahnya untuk memahami konsepsi ketuhanan, alam, dan manusia, yang merupakan sumber ilmu pengetahuan. Melalui ketuhanan, manusia menggali tentang nilai agama dan moral yang menjadi sumber kehidupan.

Sedangkan alam menginspirasi mereka untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai ilmu pengetahuan. Begitu juga dengan mendalami manusia, ilmuwan mendapatkan ilmu psikologi, biologi, dan berbagai misteri tentang manusia.

Membangun Kota Ideal
Gagasan filosofis al-Farabi juga terlihat jelas dalam pandangannya tentang membangun kota ideal. Pemikiran yang termaktub dalam kitab Ara Ahlul Madinah al-Fadhilah ini banyak membicarakan tentang konsep kepemimpinan dalam Islam.

Menurutnya, kota ideal pasti dipimpin oleh pemimpin yang berkompeten. Sosok tersebut pasti memiliki kemampuan yang sama seperti nabi atau pun utusan Allah. Pemimpin akan berkomunikasi dengan Sang Pencipta untuk menentukan masa depan orang-orang yang dipimpinnya. Kemampuan itu membuat dirinya selalu mendapatkan petunjuk Allah, sehingga kepemimpinan mengarah kepada kemakmuran dan kesejahteraan.

Kitab ini juga menginspirasi banyak ilmuwan, baik Islam mau pun Barat, untuk mengembangkan ilmu politik dan administrasi negara.

Kitab Musika
Satu hal yang unik. Di antara karya yang ‘berat’ berisikan falsafah, politik, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya, al-Farabi menulis kitab yang memotivasi seniman. Kitab itu mengajarkan tentang alat-alat yang mampu mengeluarkan suara indah.

Kitabul Musiqa mengajarkan masyarakat tentang adanya kombinasi suara sehingga menjadi indah didengar. Alunan nada yang berasal dari berbagai alat kreasi manusia menjadi hiburan melepas kepenatan dan kejenuhan masyarakat.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Berita Terpopuler

Copyright © 2015 lentera.co.id