Penerang Pembaca

Arsip 2015

Peneliti Temukan Empat Spesies Baru Kumbang di Maluku

Bagikan :

LENTERA NEWS — Sebanyak empat spesies baru kumbang Chafer (Coleoptera scarabaeidae) dari genus Epholcis ditemukan di Maluku Utara oleh peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Raden Pramesa Narakusumo bersama Michael Balke dari Zoologische Staatssammlung München, Jerman.

Berdasarkan keterangan pers yang diterima Antara, Rabu (13/2), keempat spesies baru tersebut adalah Epholcis acutus, Epholcis arcuatus, Epholcis cakalele, dan Epholcis obiensis. Kemudian, satu lectotipe, yaitu Maechidius moluccanus moser dipindahkan ke marga Epholcis sebagai Epholcis moluccanus (Moser).

Publikasi temuan tersebut dimuat dalam Jurnal Treubia Vol. 46 yang terbit pada Desember 2019. Hingga saat ini tercatat 10 spesies Epholcis yang berhasil ditemukan. Enam diantaranya teridentifikasi pada 1957 oleh Britton di New Queensland dan New South Wales, Australia.

Sedangkan empat spesies baru yang ditemukan itu merupakan catatan baru di wilayah Indonesia dan berasal dari Kepulauan Maluku, yaitu Halmahera, Obi, dan Kepulauan Ternate. “Dari bukti ini terlihat kesenjangan utama spesies Epholcis di wilayah Papua karena belum pernah ada laporan sebelumnya. Kemungkinan karena pendeskripsian beberapa spesies Epholcis sebagai Maechidius masih kurang seksama, adanya kemiripan kedua kumbang tersebut dan kurangnya pengumpulan spesimen,” kata Pramesa.

Pramesa menuturkan kumbang Epholcis merupakan serangga malam (nocturnal) yang memakan daun pohon Eucalyptus di Australia dan juga bunga cengkih. Sedangkan di Maluku, kumbang itu memakan tumbuhan dari familia Myrtaceae.

Nama acutus pada kumbang Epholcis acutus dimaksudkan untuk menggambarkan ciri fisik kumbang yang berarti “berujung tajam” dari sudut bagian pronotum. Sementara arcuatus pada kumbang Epholcis arcuatus memiliki arti “berbentuk busur” dilihat dari bentuk kaki belakang yang melengkung, dan menggambarkan ciri fisik kumbang itu.

Sedangkan nama jenis cakalele diambil dari nama tarian tradisional Maluku dan obiensis merujuk pada Pulau Obi sebagai lokasi penemuan. Metode yang digunakan untuk identifikasi spesies baru kumbang itu adalah metode taksonomi klasik lewat pendeskripsian morfologi secara tepat dan ringkas, teknik diseksi genitalia serta teknik makrofotografi.

Metode tersebut mengandalkan penelitian morfologi, penelusuran melalui publikasi lawas, dan studi banding dari satu museum ke museum lain. Metode itu berbeda dengan yang digunakan saat penemuan 110 jenis kumbang moncong Trigonopterus yang menggunakan metode Integrative Taxonomy atau Turbo Taxonomy yang mengintegrasikan metode taksonomi klasik dengan teknik genetika molekuler.

Identifikasi holotipe kumbang itu telah dilakukan sejak 2015 dan spesimen tersebut didapat dari koleksi Museum Zoologicum Bogoriense Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI dan Naturalis Biodiversity Centre, Leiden, Belanda.

Pramesa mengatakan potensi penemuan jenis-jenis kumbang baru di wilayah Indonesia masih sangat besar. Berbagai koleksi spesimen kumbang yang saat ini disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense dari berbagai hasil ekspedisi memerlukan upaya identifikasi dari para ahli dan peneliti untuk penentuan jenisnya.

Sumber: Republika

– Advertisement –

Download

Comment

ARSIP Majalah dan Koran LENTERA

Majalah dan Koran LENTERA ini Terbit Sejak 2011 hingga 2014.

Terbaru

Sukseskan Swasembada Pangan, Babinsa Meureudu Bantu Petani...

LENTERA ACEH – Dalam menyukseskan ketahanan pangan di wilayahnya, Babinsa Koramil 19/Meureudu Kodim 0102/Pidie Serda Dedi Alamsyah bersama unsur terkait lainnya senantiasa melakukan pendampingan...

Rapat Paripurna DPRK Setujui Usulan Pengangkatan Bupati...

LENTERA ACEH – DPRK Bireuen menggelar rapat paripurna perihal usulan pengangkatan Bupati Bireuen dan usulan Pengesahan pemberhentian Wakil Bupati Bireuen masa jabatan tahun 2017-2022...

Kebakaran Hanguskan Satu Rumah Warga Beuringen

LENTERA ACEH – Satu unit rumah panggung milik Halimah Puteh warga Gampong Beuringen Kecamatan Meurah Dua Kabupaten Pidie Jaya dilalap si jago merah yang...

PT. IWIP Dituntut Tanggung Jawab Atas Kecelakaan...

LENTERA MALUT – Menyikapi kecelakaan kerja seorang buruh tambang PT. Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT. IWIP), Sekolah Kritis Maluku Utara (SC-MU) melakukan demostrasi...

Gantikan Fitrah Aulia Nurdin, Fharis Alfaizar Terpilih...

LENTRA ACEH – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Syariah dan Hukum (FSH ) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh melaksanakan musyawarah besar untuk...

Terpopuler

5 Teknik Mengajar Masa Kini Untuk Guru...

LENTERA ACEH – Menurut Gropper didalam Wiryawan dan Noorhadi (1998), teknik mengajar masa kini untuk guru SD (Sekolah Dasar) harus berbasis latihan. Beliau...

Suamiku dan Handuk

LENTERA ACEH – Bersama lama sebelum halal (pacaran red) tak lantas membuatku tahu detail tentang suami. Kalau makes, mikes, filkes udah khatam lah ya....

Sidang Kasus Pemurtadan Siswa, Hakim Diminta Jatuhi...

Lentera.co.id -- Pengadilan Negeri Ternate kembali melanjutkan sidang kasus dugaan pendangkalan aqidah yang dilakukan Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) dan Gerakan Mencegah...

Kades ini Beberkan 12 Desa dan 1...

LENTERA SUMSEL – Seorang kepala desa di Kecamatan STL ULu Terawas, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan mengaku diperintahkan untuk menyetor dana senilai 10 juta...

Muntasir, Cowok Ganteng Sang DPO Pengendali 41,6...

LENTERA ACEH – Wajah rupawan tak juga mencerminkan jika kelakuannya baik, seperti Muntasir (36) yang diamankan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung atas keterlibatan...

Baru Pertama Kali, 13 Negara Dukung Palestina

Aceh.Lentera.co.id – Pertama kalinya sepanjang sejarah voting Dewan Perserikatan Bangsa Bangsa, 13 negara mengubah sikapnya terhadap Israel. Mereka menolak rancangan resolusi tahunan badan PBB...

Tak Perlu ke Paris lagi, Kini Menara...

LENTERA ACEH – Menara Eiffel atau yang biasa disebut oleh orang Prancis dengan nama La Tour Eiffel merupakan salah satu bangunan yang paling terkenal...