Penerang Pembaca

Arsip 2015

Kematian 2 Mahasiswa di Kendari, ini Kata Kapolda Sultra

Bagikan :

LENTERA NEWS — Kapolda Sulawesi Tenggara (Sultra) Brigjen Pol Merdisyam mengatakan, kasus kematian dua mahasiswa di Kendari sudah tahap penyelidikan. Dia memastikan proses penyelidikan kasus kematian dua mahasiswa tersebut secara terbuka.

“Terkait dengan yang ada di Sulteng di Kendari, proses sudah berjalan, dan ini proses yang dilakukan secara terbuka dan kita berupaya keras juga untuk dapat mengungkap kasus ini,” kata Merdisyam usai dilantik menjadi Kapolda Sultra oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian di gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin, 30 September 2019, seperti dilansir Merdeka.com.

Dia menepis tudingan penggunaan senjata api saat mengamankan demonstrasi. Menurut dia, sesuai instruksi Kapolri menegaskan setiap mengawal aksi demonstrasi tak diperkenankan menggunakan peluru karet terlebih peluru tajam.

“Dari awal sudah menjadi ketegasan dari pimpinan dari Pak Kapolri, dalam menghadapi demo itu sudah berkali-kali disampaikan bahwa anggota jangankan peluru tajam, peluru karet pun tidak diperkenankan,” kata dia.

Merdisyam menjelaskan, dalam setiap bertugas personel diawasi oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) serta provos. Sesuai protap personel yang bertugas menghadapi pendemo tak dibekali menggunakan peluru.

“Setiap kegiatan juga sudah disampaikan, diingatkan, dan diawasi oleh Propam (proresi dan pengamanan), Provos dalam melakukan pengecekan. Jadi Protap (prosedur tetap) yang ada dalam menghadapi unjuk rasa demo ini tidak sekalipun satupun anggota yang dibekali oleh peluru karet ataupun peluru tajam,” ujar dia.

Menurut dia, demo merupakan hak masyarakat. Namun dia mengingatkan agar demonstrasi tersebut harus memerhatikan syarat dan tidak mengganggu ketertiban umum.

“Kita kembali bahwa demo merupakan sesuatu yang dalam undang-undang diberikan haknya, tapi juga harus memerhatikan syarat-syarat yang ada di dalam demo tersebut dan tidak mengganggu ketertiban umum lainnya,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komjen Ari Dono Sukmanto mengatakan, tim gabungan yang dibentuk untuk menginvestigasi insiden kematian dua orang mahasiswa peserta unjuk rasa di Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara melibatkan Ombudsman.

“Investigasi untuk mengungkap kejadian sebenarnya saat aksi unjuk rasa ribuan orang menolak revisi undang-undang yang mengundang kontroversi akan dilakukan profesional dan transparan ke publik,” kata Wakapolri Ari Dono, di Kendari, Sabtu, 28 September 2019.

Menurutnya, kewenangan investigasi kasus tindak pidana pada prinsipnya pihak kepolisian. namun terbuka ruang manakala ada aspirasi yang menghendaki pelibatan komponen lain, seperti Ombudsman, Komnas HAM maupun akademisi.

“Kepolisian komitmen menjalankan tugas dengan profesional. Tim investigasi bekerja secara transparan untuk membuktikan peristiwa yang terjadi saat unjuk rasa yang menelan korban jiwa,” katanya lagi, dikutip dari Antara.

Sejauh ini, kata dia, investigasi yang dilakukan baru melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), juga menarik semua jenis senjata yang digunakan personel kepolisian saat pengamanan di DPRD Sultra.

Saat ini baru tahap investigasi TKP dan mengumpulkan senjata-senjata yang digunakan saat penugasan personel, katanya pula.

Kepolisian dalam menangani unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa, dilarang menggunakan senjata kecuali hanya tameng, tongkat polisi dan gas air mata.

“Karena ada temuan selongsong peluru maka perlu diperiksa, termasuk polisi yang ditugaskan. Perlu kita data senjata apa saja yang dibagi, amunisinya berapa untuk diteliti,” katanya.

Tim investigasi juga sudah mengantongi data hasil autopsi dan rekam medis dari kedua jenazah untuk dicocokkan dalam rangkaian teknik investigasi.

“Insya Allah secara periodik hasil investigasi akan disampaikan kepada publik. Harapannya lebih cepat lebih baik, sekarang pun tim sudah bekerja,” ujarnya.

Unjuk rasa ribuan orang gabungan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi serta pelajar di Kota Kendari, Kamis (26/9), menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Peserta unjuk rasa Randi (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Halu Oleo (UHO) dinyatakan meninggal dunia akibat luka tembak di dada sebelah kanan Kamis, 26 September 2019 sekitar pukul 15.30 WITA.

Sedangkan korban Muh Yusuf Kardawi (19) meninggal dunia setelah menjalani operasi akibat luka serius pada bagian kepala, di RSUD Bahteramas pada Jumat, 27 September 2019 sekitar pukul 04.00 WITA.

Korban penembakan bukan hanya peserta unjuk rasa, tetapi juga seorang ibu hamil enam bulan yang sedang tertidur lelap di rumahnya Jl Syeh Yusuf, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari Kamis, 26 September 2019 sekitar pukul 16.00 WITA.

Identifikasi sementara disebutkan bahwa peluru yang diangkat dari betis ibu hamil berkaliber 9 milimeter.

“Proyektil yang diangkat dari betis sebelah kanan ibu Putri menjadi barang bukti uji balistik Mabes Polri,” katanya pula.

Rumah korban yang berkonstruksi permanen berjarak sekitar 2 kilometer dari Gedung DPRD Sultra yang menjadi konsentrasi pengamanan aksi unjuk rasa oleh aparat kepolisian.

Reporter: Ahdania Kirana [gil]

Download

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARSIP Majalah dan Koran LENTERA

Majalah dan Koran LENTERA ini Terbit Sejak 2011 hingga 2014.

Terbaru

Latihan Pra Operasi “Zebra Kie Raha 2019,...

LENTERA MALUT — Kapolda Maluku Utara Brigjen Pol Suroto didampingi Wakpolda Malut Kombes Pol Lukas Akbar Abriari dan Dir Lantas Kombes Pol Abrianti Pardede...

Hasil Audit Anggaran Desa Losseng akan Disampaikan...

LENTERA MALUT – Terkait hasil audit inspektorat Kabupaten Pulau Taliabu atas dugaan penyalahgunaan dana desa (DD) dan alokasi dana desa (ADD) tahun 2017-2018...

Stop Pengrusakan Lingkungan, Pulihkan Hak Warga...

LENTERA SULSEL — Dewasa ini perusakan lingkungan tidak hanya dilakukan oleh kegiatan bisnis ekstraktif seperti tambang dan perkebunan. Melainkan ada aktor baru yakni pemilik...

Perusahan Batu Bara belum Miliki Ijin, DPRD...

LENTERA MALUT — Delapan anggota DPRD Halteng Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara ditemui puluhan Mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Fagogoru Halmahera (Gemuruh)...

Warga Tanah Goyang Digegerkan Ikan Bertuliskan Kata...

LENTERA NEWS — Warga Dusun Tanah Goyang, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku pada Senin, 21 Oktober 2019, digegerkan dengan penemuan...

Terpopuler

Sidang Kasus Pemurtadan Siswa, Hakim Diminta Jatuhi...

Lentera.co.id -- Pengadilan Negeri Ternate kembali melanjutkan sidang kasus dugaan pendangkalan aqidah yang dilakukan Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) dan Gerakan Mencegah...

WNI Ini Dituduh Incar Separuh Kekayaan Suaminya

LENTERA.CO.ID -- Wanita asal Surabaya Novy Chardon dituduh mengincar separuh harta kekayaan suaminya John William Chardon, termasuk perusahaan, investasi pertambangan, serta dana...

Video Kelemahan dan Kelebihan All New Terios

Daihatsu Terios pertama kali terjun ke pasar Tanah Air 2006 silam. Setelah berumur 10 tahun lebih, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sadar kalau persaingan...

Chelsea Raup Keuntungan dari Penjualan Kostum Willian

LENTERA SPORT — Chelsea meraup keuntungan dari segi komersial penjualan kostum. Itu setelah jersey bernomor punggung 10 Chelsea yang kini dipakai Kostum Willian secara...

DPRD Haltim Gelar Sidang Istimewa Pergantian Antara...

HALTIM, LENTERA.CO.ID – Sidang paripurna…

Teknologi Tingkatkan Pendapatan UKM Hingga 40 Persen

LENTERA, TEKNO — Teknologi menjadi…