Kesaksian Korban: Selamatkan dari Bahaya, SRB Rela Abaikan Perintah Atasan

0
342
Bapak Ir. H Soetrisno T. Sudrjo dan keluarga, warga Desa Hegarmanah, Bandung yang korban perampokan dan penyanderaan.

Kesaksian Bapak Ir. H Soetrisno T. Sudrjo dan keluarga, warga Kelurahan Hegarmanah, Bandung yang korban perampokan dan penyanderaan.

TERNATE, LENTERA.CO.ID — Peristiwa itu terjadi sekira thn 2005 silam di tempat tinggal kami Jl. Kpt Tendean nomor 10 Hegarmanah Bandung, yang merupakan perumahan pemerintah di bawah pengelolaan sekretariat negara.

Suatu hari, kedatangan seorang pria di rumah saya (Soetrisno T. Sudrjo) di tempat Jl. Kpt Tendean nmr 10 Hegarmanah Bandung. Pria (P) itu mengaku teman SMP anak perempuan Soetrisno yang kala itu mengaku tinggal di Denpasar.

Sebut saja namanya “P” ,yang ingin meminjam uang dengan alasan dompetnya hilang sedangkan P harus ke Surabaya untuk suatu keperluan. Walau Saya juga tahu manuver seperti ini sudah sangat umum dipergunakan oleh beberapa orang untuk mendapatkan uang secara instan, namun saya tetap memberinya.

Seminggu kemudia, P kembali datang. Saya yang baru saja balik dari pasar mengantar istri, Saya pun mengira P akan mengembalikan hutangnya yang dipinjam seminggu lalu sehingga P dipersilahkan masuk tanpa kecurigaan sedikitpun.

Didalam rumah ada anak perempuan saya yang bungsu bersama anak perempuannya yang baru berumur 2 tahun. Ketika itu, P pun minta permisi ke toilet sementara. Soetrisno juga masuk ke kamar untuk berganti pakaian. Tiba tiba saya mendengar teriakan keras istri dan anak saya. Saya segera bergegas keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Ya Allah, ternyata P sedang mengayun-ayunkan pisau dan mencoba menusuk istri dan anak saya.

Sepertinya saat di toilet, P memanfaatkan kesempatan untuk mempersiapkan pisau yang dia bawa.

Istri saya berusaha melawan dan berhasil memegang tangan kanan P yang memegang pisau. Melihat situasi itu, saya pun berupaya untuk menolong istri dan anak saya dengan ikut memegang tangan kanan P, namun ia berhasil memberontak dan melepaskan diri sambil menyerang membabi buta. Saya dan istri jatuh terkapar akibat sabetan pisau P. Saya terluka dibawah ketiak, sedangkan istri saya mengalami luka di dada dan di punggung, sementara anak perempuan saya yang saat itu juga mengalami luka tusuk diperut berhasil keluar rumah dengan tertatih tatih sambil memegang luka tusuk diperutnya lalu berteriak meminta pertolongan warga. Namun saat itu tak seorang pun warga yang berada diluar dan mendengar permintaan tolong itu. Namun tidak lama kemudian, beberapa warga yang mendengar teriakan permintaan tolong berdatangan untuk memberikan pertolongan.

Anak perempuan Saya yang saat itu berhasil keluar dan berteriak meminta pertolongan, akhirnya jatuh terkapar tak sadarkan diri akibat luka tusukan dan pendarahan hebat sehingga oleh warga di evakuasi ke Rumah Sakit Advent Bandung.

Sementara itu, P yang mulai panik melihat massa sudah berkumpul dihalaman rumah langsung menyekap dan menyandera cucu saya di pintu utama dengan menempelkan pisau dilehernya dan mengancam warga agar tidak coba-coba mendekat atau memaksa masuk. Soetrisno dan istri tidak bisa berbuat apa-apa karena terkena sabetan dan tusukan pisau sehingga hanya bisa pasrah sambil berdoa dan berharap warga masyarakat yang datang bisa menolong mereka.

Warga yang sudah berkumpul tidak bisa berbuat banyak dengan lebih mempertimbangakan keselamatan cucu saya yang di sandera.

Meski begitu, tak lama kemudian, datang seorang anggota TNI dengan membawa parang panjang yang di jemput dan dibonceng dengan sepeda motor oleh Bapak Rahmat yang kebetulan menjabat sebagai ketua RW sentempat, yang usai melihat kejadian, berinisiatif datang meminta pertolongan ke asrama Secapaad yang tidak terlalu jauh dari lokasi kejadian. Secara kebetulan, ada beberapa anggota TNI yang sedang merapihkan ranting-ranting pohon di dalam asrama.

Melihat kedatangan anggota TNI, P bertambah panik dan melepaskan cucu saya sambil berlari ke arah pintu belakang untuk meloloskan diri dari kepungan warga. Tanpa keraguan, saya melihat anggota TNI yang kemudian di ketahui bernama Bapak Sertu Ruslan Buton masuk menyusul dan mengejar P di ikuti oleh pak Rahmat dan beberapa warga.

Dengan sisa tenaga sambil menahan rasa sakit akibat luka tusuk dibawah ketiak, saya sempat menunjukan arah pintu belakang kepada Bapak Sertu Ruslan Buton.

Nasib sial bagi P, yang berniat kabur meloloskan diri itu, akhirnya terperangkap di semak semak yang merupakan area sempit dan buntu, terhalang tembok dan kawat duri. Dengan sigap, Bapak Sertu Ruslan Buton langsung menempelkan parang dilehernya sambil membentak dan berteriak: “Jangan bergerak kalau tidak, lehermu saya potong”.

Saat disergap, P tidak bisa berbuat banyak, hanya mengangkat kedua tangan sebaai tanda menyerah. Namun tanpa di duga, ternyata P masih berniat melawan Bapak Sertu Ruslan Buton. P mencabut pisau rencong yang terselip dipinggangnya, namun lagi lagi Bapak Sertu Ruslan Buton lebih reflek dengan menendang tangan P sehingga pisau rencongnya terjatuh dan kembali parang ditempelkan di leher P. Sontak salah seorang warga mengamankan pisau rencong milik P yang jatuh dan beberapa warga lain yang ikut mengejar melampiaskan kekesalannya dengan memukul dan menendang P. Namun dengan kesigapan Bapak Sertu Ruslan Buton, P berhasil diselamatkan dari amukan massa, menghindari sikap main hakim sendiri sehingga P di bawa ke asrama Secapaad, selanjutnya Bapak Sertu Ruslan Buton menelpon Polsek Cidadap untuk menjemput dan memproses P secara hukum.

Sesaat setelah kejadian saya dan istri di bawa ke Rumah Sakit Advent untuk mengobati luka tusuk sekaligus melihat kondisi anak saya yang masih terkulai lemas akibat luka tusukan di perut yang cukup serius dengan kedalaman 3 cm dan panjang 7 cm.

Tiga hari setelah kejadian, oleh pihak Rumah Sakit mengatakan anak saya sudah diperbolehkan pulang ke rumah untuk selanjutnya dapat melaksanakan rawat jalan. Banyak awak media, baik cetak maupun media elektronik yang datang kerumah saya untuk meminta keterangan yang saat itu menjadi topik pembicaraan dan berita utama di Kota Bandung. Secara kebetulan, saat itu juga bapak Sertu Ruslan Buton sedang datang bersilaturahmi dan sempat saya perkenalkan kepada salah satu wartawan STV (sekarang Kompas TV) bahwa beliau inilah yang menyelamatkan kami sekeluarga dari upaya perampokan dan penyanderaan yang dilakukan P. Sontak wartawan tersebut berniat untuk mewawancarai bapak Sertu Ruslan Buton untuk ditayangkan dalam salah satu program berita kriminal di STV yaitu Catatan Kriminal (Cakram) yang tayang dalam durasi selama 30 menit. Dan atas ijin pimpinan Secapa saat itu, Sertu Ruslan Buton di wawancara oleh pihak STV bertempat di dalam asrama Secapaad Bandung.

Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT, kepada seluruh warga yang saat itu datang memberikan pertolongan, kepada bapak Rahmat ( Ketua RW ), dan terutama kepada Bapak Sertu Ruslan Buton yang dengan keberaniannya telah menyelamatkan kami dari ancaman bahaya.

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk kepedulian dan reaksi saya atas pemberitaan yang sempat viral di media sosial (medsos) beberapa waktu yang lalu bahwa Bapak Ruslan Buton yang dulu saat berpangkat Sertu sangat berjasa menolong dan menyelamatkan keluarga kami dari upaya perampokan dan penyanderaan, dan kini beliau berpangkat Kapten saat sedang melaksanakan tugas negara tersandung masalah hukum dengan putusan memberhentikannya dari dinas militer.

“Saya atas nama keluarga turut prihatin atas pemberitaan tersebut. Kami yakin dan percaya, apa yang Bapak Ruslan Buton lakukan semata mata demi untuk membela warga masyarakat di tempat beliau bertugas. Bagi saya, Bapak Kapten Inf Ruslan Buton adalah Pahlawan. Oleh karenanya, saya berharap agar pimpinan TNI mempertimbangkan kembali putusan pengadilan dengan memberikan hukuman yang yang lebih ringan kepada beliau tanpa harus memberhentikannya dari dinas militer,” pinta Soetrisno.

Demikian kisah ini saya rekam sebagai dokumentasi pribadi dan keluarga, bahkan saya telah menulisnya dalam bahasa Inggeris untuk komsumsi teman teman saya.
Wassalam.

Bandung, 13 Juli 2018

Ir. H. Sutrisno T. Sudirjo.

Hanya untuk Menolog Korban, SRB Abaikan Perintah Atasan

Usai Peristiwa yang menimpah keluarga Ir. H. Sutrisno T. Sudirjo itu, Anggota Secapa TNI AD, yakni Mayor Kav Satria dan Serda Dede Roni mengisahkan peristiwa tersebut sekaligus mengenalkan kepribadian Serka Ruslan Buton (SRB). Bahwa hari dan tanggal (lupa), tapi pagi itu sekira pukul 08.30. Kegiatan operasional satuan berjalan normal. Serka Ruslan Buton (disingkat SRB) yang saat itu menjabat sebagai Bintara Pelatih Kompi Demonstrasi Detasemen Demonstrasi dan Pengawal Secapa TNI AD. Setelah pelaksanaan apel pagi yang merupakan aktivitas rutin, SRB membagi tugas personelnya sesuai jadwal mingguan yang sudah dibuat. Sebagian besar melaksanakan tugas demonstrasi mendukung operasional pendidikan Secapaad sesuai tugas pokoknya, sebagian lagi melaksanakan pembersihan pangkalan yang saat itu di bagi dua sektor. Sektor pertama di sekitar Markas Komando Detasemen dan sektor kedua disekitar area penjagaan kesatrian yang merupakan sektor tanggung jawabnya.

Kapten Inf, Ruslan Buton

SRB sendiri memimpin pelaksanaan pembersihan di sektor penjagaan dengan sasaran tugas merapihkan ranting-ranting pohon dengan menggunakan peralatan yang mendukung seperti parang, dan lain sebagainya. Sebagai Bintara Pelatih, SRB dikenal sebagai pribadi yang cukup di segani karena memiliki dedikasi, loyalitas, disiplin, ilmu kepelatihan yang mumpuni sesuai fungsinya juga memiliki pribadi yang sangat bertanggung jawab dan selalu memberi contoh yang baik kepada setiap anggotanya.

Dalam setiap melaksanakan suatu kegiatan SRB tidak hanya berdiri dan memerintah anak buahnya akan tetapi dia juga selalu tampil terdepan ikut bekerja bersama sama dengan anak buahnya.

Pagi itu, kegiatan di asrama Secapaad berjalan seperti biasa tiba tiba datang dua orang warga yang berboncengan motor dengan kecepatan cukup tinggi berhenti mendadak di depan gerbang utama Sacapaad dan seperti nampak terburu buru melaporkan kepada anggota yang sedang melaksanakan kegiatan, bahwa telah terjadi aksi penyanderaan di rumah salah satu warga sambil memohon bantuan, warga yang ada tidak bisa berbuat banyak karena diancam untuk tidak mendekat oleh pelaku penyandera.

Saat itu, selaku yang tertua, SRB melaporkan kepada perwira Piket dan sekaligus meminta ijin untuk ke lokasi kejadian yang jaraknya sekitar 200 meter dari asrama Secapaad dalam rangka menolong atau menyelamatkan korban. Namun Perwira Piket tidak memberikan ijin dengan alasan, itu bukan wewenang mereka dan kejadiannya di luar kesatuan.

Raut wajah tampak kecewa, SRB mengabaikan perintah Perwira Piket dan mengambil keputusan untuk tetap ke lokasi kejadian dengan target utama adalah menyelamatkan korban dari tangan penyandera. Dengan berbekal parang panjang yang kebetulan di bawanya untuk merapihkan pohon saat itu, SRB berangkat bersama dua orang warga yang sudah melapor dan sudah menunggu dari tadi.

Berbonceng tiga, mereka kelokasi kejadian. Setibanya dilokasi kejadian, banyak warga yang hanya berkerumun di halaman rumah korban tanpa bisa berbuat apa-apa karena diancam pelaku penyandera yang berdiri di mulut pintu utama sambil menyekap salah satu korban anak kecil dengan menempelkan pisau di lehernya.

Berkat uapaya SRB hingga menangkap pelaku, SRB pun menghindari amukan massa dan hal yang tidak di inginkan. SRB melindungi pelaku sambil menenangkan massa untuk tidak main hakim sendiri dan pelaku pun bisa terhindar dari amukan massa kemudian di amankan di asrama Secapaad sambil menunggu petugas Polsek Cidadap datang menjemput pelaku.

Red: Hana

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini