16.9 C
Munich
Senin, Mei 25, 2020

KPA RI Prihatin atas Kasus Seksual Terhadap Anak dan Proses Hukum di Haltim

Must read

Tak Hanya Pasien, Tenaga Medis RSD Wisma Atlet Butuh Kesehatan Mental

JAKARTA – Jam kerja yang panjang membuat para petugas di RS Darurat Wisma Atlet membutuhkan stamina dan kesehatan mental yang baik. RS Darurat Wisma...

Hari Kedua Lebaran, Pasien Sembuh Bertambah 240 Orang, Total Jadi 5.642

JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat jumlah penambahan pasien sembuh COVID-19 per hari ini Senin (25/5) atau hari kedua...

Infografis COVID-19 (25 Mei 2020)

Untuk mendapatkan infografis dalam resolusi tinggi atau versi bahasa Inggris (English version), silakan kunjungi tautan berikut ini.

Menu Makanan Pasien RS Darurat Wisma Atlet Jadi Perhatian Ketua Gugasnas

JAKARTA – Menu makanan yang dikonsumsi pasien RS Darurat Wisma Atlet menjadi perhatian Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo. Doni menyampaikan apresiasi...

HALTIM, LENTERA.CO.ID – Kasus kejahatan seksual terhadap anak di Kabupaten Halmahera Timur (Haltim, Maluku Utara (Malut) menjadi perhatian serius dari Komisi Perlindungan Anak RI.

Anggota Komnas Perlindungan Anak RI, Arist Merdeka Sirait saat berkunjung ke Haltim pada Selasa, 18 September 2018 ini menyatakan, dari Januari hingga Juni 2018, kejehatan seksual terhadap anak yang dilaporkan ke Polres Haltim sebanyak 18 kasus. “Itu belum dengan kasus diselesaikan dengan pendekatan damai, karena dianggap aib,” kata Arist Sirait kepada wartawan, di Kabupaten Haltim.

Kondisi itu, dia mengatakan, Haltim adalah salah satu daerah yang harus mendapatkan perhatian. Ia juga menyampaikan perhatian tersebut, yakni bagaimana memberikan yang terbaik bagi anak-anak, karena terancam berbagai kasus kejehatan seksual.

Tak hanya itu, ia menyentil kasus di Desa Miaf, Kecamatan Maba Tengah. Dia mengatakan, tidak ada alasan Polres menghentikan penyelidikan, jika tak ada akte lahir.

“Setiap orang dirugikan secara hukum, baik anak dan lansia sekali pun. Kalau sudah ada dua alat bukti, polisi tidak bisa hentikan kasus itu dan harus dilanjutkan proses hukumnya,” katanya.

Olehnya, lanjut Arist, jika proses hukum yang terjadi terus seperti ini, maka kasus kejahatan seksual di Haltim tak akan diselesaikan.

“Atas keperhatinan inilah, kita perlu sosialisasi di Haltim, agar tahun 2019, kita harapkan Kabupaten ini menuju Kota layak anak, dan ada 31 indikator yang harus di penuhi,” terangnya.

“31 Indikator menuju Kota Layak Anak, salah satunya Infrastruktur, lingkungan sekolah yang ramah pada anak, lingkungan puskesmas yang ramah anak dan regulasi perda tentang miras,” ujarnya.

Red: Ilham H

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

Tak Hanya Pasien, Tenaga Medis RSD Wisma Atlet Butuh Kesehatan Mental

JAKARTA – Jam kerja yang panjang membuat para petugas di RS Darurat Wisma Atlet membutuhkan stamina dan kesehatan mental yang baik. RS Darurat Wisma...

Hari Kedua Lebaran, Pasien Sembuh Bertambah 240 Orang, Total Jadi 5.642

JAKARTA - Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mencatat jumlah penambahan pasien sembuh COVID-19 per hari ini Senin (25/5) atau hari kedua...

Infografis COVID-19 (25 Mei 2020)

Untuk mendapatkan infografis dalam resolusi tinggi atau versi bahasa Inggris (English version), silakan kunjungi tautan berikut ini.

Menu Makanan Pasien RS Darurat Wisma Atlet Jadi Perhatian Ketua Gugasnas

JAKARTA – Menu makanan yang dikonsumsi pasien RS Darurat Wisma Atlet menjadi perhatian Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo. Doni menyampaikan apresiasi...

Kurva COVID-19 di Aceh Landai, Yuri: Kunci Keberhasilannya Ada di Masyarakat

JAKARTA - Juru Bicara COVID-19 Achmad Yurianto mengapresiasi masyarakat Aceh atas keberhasilan dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19. Menurutnya kunci penyelesaian masalah COVID-19 di...