oleh

Aksi Desak Bebaskan Aktivis Pro-Demokrasi yang Ditangkap

LENTERA MALUT — Sejumlah massa aksi yang tergabung dalam Komite Peduli Ham dan Demokrasi menggelar aksi long march dari Kampus STIKIP Kieraha sampai Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Kota Ternate, pada Rabu, 18 September 2019.

Mereka menuntut agar pemerintah dan aparat segera bebaskan sejumlah aktivis Papua yang ditangkap, termasuk Juru Bicara Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) dan menuntut agar mencabut status tersangka yang menjerat pegiat HAM, Veronica Koman.

Penangkapan itu disinyalir akibat demonstrasi damai Aliansi Mahasiswa Anti Rasisme, Kapitalisme, Kolonialisme, Imperialisme, dan Militerisme, di Mabes TNI-AD dan Istana Negara, Jakarta, 28 Agustus 2019.

Dalam demonstrasi tersebut, mereka mengecam tindakan diskriminasi rasial terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, 16-17 Agustus 2019, dan menuntut hak penentuan nasib sendiri bagi West Papua sebagai jalan keluar dari segala diskriminasi rasial.

“Beberapa demonstran mengibarkan bendera Bintang Kejora sebagai ekspresi politik atas apa yang telah terjadi di Surabaya dan sebagai tuntutan kebebasan berekspresi di Papua,” ujar Kordinator Aksi, Aslan seperti dikutip dalam keterangan pers yang diterima redaksi lentera.co.id.

Sementara, lanjut Aslan, pembungkaman kebebasan berpendapat dan berekspresi juga menyasar Veronica Koman, pengacara hak asasi manusia yang biasa membela hak-hak gerakan sosial Papua.

Pada Rabu, 4 September 2019, oleh Polda Jawa Timur, dia ditetapkan sebagai tersangka. Aktivitasnya menyebarkan informasi-informasi melalui Twitter tentang apa yang terjadi dan dialami rakyat Papua, baik di Tanah Papua maupun di luar Papua, dianggap polisi sebagai provokasi dan makar. Saat ini Veronica yang sedang berada diluar negeri tengah di buru oleh pihak kepolisian bersama BIN dan Interpol

Massa aksi Komite Peduli HAM dan Demokrasi kampanye desak untuk membebaskan aktivis Papua yang ditangkap. (Lentera/Ajun)

Menurut massa aksi, apa yang dilakukan aparat Kepolisian terhadap Surya Anta dan lima mahasiswa Papua, serta persekusi resmi terhadap Veronica Koman dan sejumlah warga Papua lainnya merupakan serangan serius terhadap hak berkumpul, berekspresi/berpendapat dan menyampiakan protes secara damai serta hak untuk menyebarkan informasi yang benar dan sah.

“Pada dasarnya Konstitusi dan peraturan perundang-undangan Indonesia sudah menghormati dan melindungi hak-hak dan kebebasan asasi tersebut,” terang salah satu massa aksi, Arbi saat konferensi pers pasca aksi di depan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Khairun Ternate, Rabu 18 September 2019 tadi.

Oleh karena itu, mereka menyerukan, kepada seluruh mahasiswa untuk merebut kembali hak-hak dan kemerdekaan untuk berkumpul, berunjuk rasa dan peroleh informasi yang tengah dirampas.

Massa aksi itu juga menuntut agar Kepolisian dan Pemerintah untuk menghentikan segala bentuk intimidasi, kriminalisasi dan persekusi terhadap mahaiswa Papua, serta segera membebaskan Surya Anta dan kawan-kawan mahasiswa Papua tanpa syarat.

Juga mendesak untuk mencabut segala sangkaan dan tuduhan tanpa dasar terhadap pembela HAM, Veronica Koman, serta menuntut agat militer organik dan non organik di Tanah Papua segera ditarik. (Ajn)

The post Aksi Desak Bebaskan Aktivis Pro-Demokrasi yang Ditangkap appeared first on LENTERA Malut.

Komentar