oleh

Jihad dengan Puasa

KOLOM.LENTERA.CO.ID — Puasa merupakan sarana manusia untuk menjadi orang yang bertakwa dan beriman. Menjalankan ibadah puasa berarti menunjukkan ikhtiar, ketaatan, dan ketundukan atas perintah yang dikeluarkan oleh Allah SWT.

Dalam ayatnya, perintah puasa pun diawali dengan panggilan terhadap orang-orang yang beriman. KH A Nur Alam Bakhtir da lam kajiannya di Masjid Agung Sunda Kelapa menyebut ibadah puasa, shalat, haji, dan zakat masuk dalam kategori rukun Islam. Bagi yang melaksanakan rukun Islam, berarti mereka telah tunduk dan membuktikan jika mereka adalah orang Islam.

Orang yang disebut sebagai mukmin dan Muslim, harus selalu melaksanakan rukun ini ditambah enam rukun iman. Tujuannya agar keimanan dan keislamannya semakin kuat. Jika tidak dijalankan, dia disebut ingkar. Makhluk ciptaan Allah yang pertama ingkar adalah iblis. Iblis tidak mau bersujud sesuai perintah Allah SWT saat Adam diciptakan.

Dalam surah al-Kahfi ayat 50 dituliskan, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu ke pa da Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin se lain daripada-Ku, sedang me reka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.”

“Ingkar ini seperti iblis. Ia ing kar karena sombong atas logikanya sendiri. Ia merasa lebih baik daripada Adam karena ia diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Itu sebabnya makhluk yang pertama ingkar dan kafir atau tertutup hatinya ada lah iblis,” ujar KH A Nur Alam Bakhtir dalam kajiannya, Senin, 6 Mei 2019.

Allah SWT dalam surah al- Baqarah ayat 6 dan 7 menjelas kan tentang orang kafir. Dalam su rah itu Allah bersabda, “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan (begitu saja) beriman. Allah SWT telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka ditutup. Dan, bagi merekalah siksa yang amat berat.”

Kiai Nur menyebut, manusia juga memiliki bibit-bibit kesombongan. Kesombongan ini bisa karena harta, fisik, kekayaan, dan jabatan. Orang yang sudah som bong tak akan mempan diberi ta hu tentang hal baik. Ini karena Allah sudah menutup hatinya da ri Islam. Jika hati sudah tertutup, indranya, utamanya pendengaran dan penglihatan, tidak akan ber fungsi.

“Puasa adalah ikhtiar, ketundukan keislaman pada Allah SWT. Tujuannya agar bertakwa dan beriman. Kalau orang ini tidak bertakwa, puasanya akan menjadi sia-sia,” ujar dia. Nabi SAW bersabda, “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa ke cuali lapar dan dahaga saja.” Hal ini terjadi karena umat tidak berpuasa dari apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Ia tidak makan dan minum, tetapi masih me la ku kan perbuatan yang buruk.

Rasulullah dalam HR Ahmad juga pernah bersabda, “Akan datang suatu masa menimpa umat ku mereka yang melakukan shalat, padahal sebenarnya mereka tidak shalat.” Ini juga terjadi karena dalam hatinya tidak tulus beribadah untuk Allah SWT.

Dalam surah al-Ankabut ayat 45, Allah berfirman, “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepada mu, yaitu al-Kitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (per buat an-perbuatan) keji dan mungkar. Dan, sesungguhnya meng ingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-iba dah yang lain). Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Contoh perbuatan keji adalah hal-hal yang dilakukan untuk meng aniaya diri sendiri seperti berbuat zina, mabuk, dan me ngon sumsi obat-obatan terlarang. Bagi orang yang memiliki harta berlimpah, dia akan membawa uangnya ke tempat perjudian. Se mentara, untuk mungkar adalah per buatan yang menganiaya orang lain dan menyulitkan orang lain.

Menurut Kiai Nur, puasa juga termasuk dalam jihad besar da lam melawan diri sendiri. Lebih lanjut, dia menjelaskan, hati manusia memiliki tiga nafsu yang di berikan oleh Allah SWT. Tiga naf su ini adalah nafsu mutmainnah, lawwamah, dan ammarah bissu’.

Nafsu mutmainnah adalah nafsu yang membuat pemiliknya tenang dalam ketaatan. Nafsu yang dirasakan adalah selalu produktif dan aktif untuk berbuat hal-hal yang baik. Nafsu lawwa mah adalah nafsu untuk merasa menyesal. Ia mengenal baik dan buruk, tetapi masih belum bisa mengendalikan dirinya untuk me milih berbuat yang baik atau berbuat dosa. Biasanya nafsu ini mendorong untuk merasa menyesal telah bermalas-malasan, ber buat dosa, dan tidak puasa.

Menurut dia, setiap manusia memiliki tiga nafsu tersebut. Akan tetapi, penyesalan mereka datang lebih cepat dan lambat. Dia menjelaskan, tiga nafsu ini men jadikan derajat manusia ren dah. Ini mengancam manusia. Melalui puasa diharapkan mela wan nafsu yang buruk dan menjadikan ibadah puasa sebagai ji had besar.

“Inti dari puasa adalah meningkatkan nafsu mutmainnah, menimbalkan nafsu lawwamah, dan menenggelamkan nafsu ammarahbissu. Ini bentuk jihad kita untuk meningkatkan iman dan Islam. Puasa itu lahir dan batin. Puasa mata, telinga, dan pera saan,” ujar dia.

Source: Republika

Komentar