Penerang Pembaca

Arsip 2015

Dua Revolusioner Sunyi di Bumi Fagogoru

Bagikan :

LENTERA.CO.ID —

“Perjuangan politik yang sesungguhnya
adalah perjuangan melawan lupa”
(Milan Kundera).

Introduksi

Era sekarang ditandai dengan era milenial dengan disruptif dewasa ini dimana perubahan terjadi demikian cepat dan memaksa kita untuk mengubah mindset kita dalam menghadapi semua hal. Adapun soal nilai dan kontekstualitasnya sering terabaikan seiring dengan sedemikian cepatnya arus perubahan yang berlangsung. Bahkan sangat mungkin faktor nilai menjadi terlupakan.

Untuk itulah kesejarahan menjadi signifikan dicermati karena menyangkut nilai dan jati diri sekaligus ‘national pride’ kita sebagai anak bangsa agar tidak larut dan lebur dalam arus perubahan cepat ini. Sebaliknya, melupakan atau mengabaikan sejarah maka kita sebenarnya dengan sengaja tengah melakukan dis-eksistensi diri sendiri dan siap tergerus arus disrupsi ini. Adapun sejarah sendiri tanpa nilai dan kontekstualitasnya, akan kehilangan makna dengan sendirinya. Karena peristiwa sejarah adalah peristiwa yang terjadi pada momentum tertentu dan menanamkan ‘nilai lebih’ yang melampaui zamannya. Tentu saja tidak semua peristiwa adalah bersejarah karena tidak semuanya memiliki nilai lebih bagi makna kemanusiaan yang melampaui zaman.

Kita hari ini adalah sebuah kesinambungan dari masa lalu dan tengah menuju hari esok. Timbul pertanyaan substantif bahwa apakah kehadiran kita memiliki nilai? Lalu dari peristiwa manakah nilai itu ada? Celakanya kita sering mengidap amnesia sejarah. Tentu karena syaraf memori yang kian pendek dan lemot saja. Sehingga jawaban atas nilai tersebut pun menjadi absurd seiring sikap ahistoris kita yang mentradisi.

Gejolak Nasionalisme Bumi Fagogoru

Bahwa Halmahera Tengah ini menorehkan nama besar dalam sejarah pergolakan bangsa Indonesia. Tercatat nama Haji Salahuddin Talabuddin dan wilayah ini juga adalah titik awal perjuangan nasionalis Dr.Chasan Boesoeirie sebelum kemerdekaan. Lulus sebagai dokter pada 2 Juni 1937, dan tepat pada 9 Oktober 1937 ia ditugaskan di Weda. Dr.Chasan Boesoeirie adalah dokter pertama yang orang Indonesia di Maluku Utara mengawali perjuangannya di wilayah ini. Biasanya dokter adalah orang Belanda dan berpangkat kapten KNIL. Boesoeirie mencatat bahwa saat awal bertugas di Weda hanyalah sebuah kampung yang terdiri dari 50 rumah dan jumlah penduduk sekitar 1000 orang saja. Weda sendiri termasuk dalam daerah zelfbestuurende landsrechtschappen Ternate, Tidore en Batjan, dimana Kota Ternate sebagai ibukota. Weda dipimpin seorang HPB yang juga membawahi satu detasemen pasukan KNIL dengan seorang Letnan satu sebagai perwiranya. Adapun dokter biasanya berpangkat Kapten KNIL. Dalam catatan sang dokter baru saja 6 jam bertugas di Weda, telah terjadi epidemi disentri di Patani dimana dr.Chasan Boesoeirie ditemani seorang mantri cacar ke Patani. Ternyata di Patani tidak terjadi epidemi tersebut. Tetapi di Patani inilah dr. Chasan Boesoeirie berkenalan dengan Abdul Hamid Tengku Idris (ayah dr. Abdul Gafur, mantan Menpora), dan kemudian mereka bersahabat baik sebagai orang pergerakan.

Setelah bertugas di Weda, dr. Chasan Boesoeirie melanjutkan perjuangan di Ternate. Beliau sempat menjadi tokoh sentral dalam perjuangan kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Jabatannya yang diemban antara sebagai ketua Persatuan Indonesia (PI), sebuah organisasi perjuangan yang menghimpun para pejuang pro-republiken yang pro merah putih kelak.

Ia juga bersama Salim A. Fabanyo mewakili Maluku Utara dalam konferensi Malino pada 16 Juli 1946 di era NIT (Negara Indonesia Timur). Dalam Konferensi Malino ini sebagai delegasi Maluku Utara, dr. Chasan Boesoeirie dan Salim A. Fabanyo dengan mengatasnamakan 6.000 rakyat Maluku Utara, menuntut kemerdekaan penuh bagi Indonesia karena saat itu Ketua Konferensi adalah Gubernur Jenderal van Mook. Beliau juga bersama seorang perempuan Belgia Jeanne van Diejen, dibawah ancaman Tentara Jepang, kemudian mengibarkan bendera putera putih dari seprei Rumah Sakit Sorofo yang di ikat pada sebatang bambu dan menuju kapal perang Jepang yang yang tengah mengultimatum Ternate ketika Jepang mendarat di Ternate pada 7 Januari 1942. Karena Maluku Utara saat itu telah mengalami vacuum of power, ditinggalkan oleh penguasa kolonial Belanda. Dr.Chasan dan Jeanne ini menyelamatkan Ternate dari pemboman Jepang dibawah Pasukan Pendarat Jepang dibawah pimpinan Commander of th1st and 2nd Invasion Support Units Laksamana Madya Fujita Ruitaro (lihat: Ibu Maluku, The Story of Jeanne van Diejen. Ron Heynneman).

Di Weda pula dr. Chasan Boesoeirie tercatat mendirikan perkumpulan ‘Penyedar’ yang berkembang kemudian menjadi Gerakan Kepanduan Muhamadiyah dan selanjutnya menjadi Cabang Muhamadiyah. Beliau kemudian berinisiatif membangun Madrasah Muhamadiyah secara gotong royong di Sagea, Weda tempat ia bertugas sebagai dokter Hindia Belanda selama 4 tahun. Tentu saja kiprah sang dokter pejuang ini mendapat tantangan dari pihak kolonial Belanda yakni Letnan Satu KNIL (Koninklijke Nederlandsche Indische Leger) van Santen sebagai Hoofd van Plaatselijke Bestuur (HPB) Weda, semacam Kepala Pemerintahan Setempat (KPS) yang sangat bermusuhan dengan setiap gerakan nasionalisme. Di Weda pula putri dr.Chasan Boesoeirie terlahir pada 30 September 1939 yang bernama Dra. St. Moetmainah. Dari Weda lah dokter pejuang ini terpanggil menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan setelah menemukan dan membaca dokumen program kabinet Belanda Hendrikus Colijn di Weda. Yaitu program bevordering van de kerstening in Nederlandsch Indie. Dan di Utrecht Zending Vereniging yang tadinya dipelopori Pendeta van Baarda dan van Dijken di Duma, Galela, masih tetap eksis dan kemudian bermarkas di Tobelo di bawah seorang Domine Belanda bernama Both.

Sejak melihat dokumen tersebut, lahirlah nasionalisme dr. Chasan Boesoeirie muda untuk kemerdekaan Indonesia. Dari Weda ini dr. Chasan Boesoeirie bercita-cita memerdekaan Indonesia dengan mendambakan tiga hal yakni adanya lembaga Islam yang dikelola secara profesional, ingin mendirikan perguruan tinggi Islam juga mendambakan adanya rumah sakit Islam. Tidaklah mengherankan jika dambaan ini dimulai dengan membentuk organisasi Penyedar dan mendirikan madrasah Muhamadiyah di Sagea. Dan semangat dari Weda ini juga berlanjut hingga di Ternate kelak dalam masa-masa kritis menjelang kemerdekaan, pendudukan Jepang hingga proklamasi dan sesudahnya. Tidaklah mengherankan jika dr.Chasan Boesoeirie pernah didaulat sebagai the uncrown sultan of Ternate (De ongekroond Sultan van Ternate). Karena kecintaannya pada Maluku Utara, ia menolak dipindahkan ke Tanah Merah Papua oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Hal ini dilakukan setelah melihat sepak terjang Chasan Boesoeirie yang sangat pro pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Pasca kemerdekaan, di Halmahera Tengah ini adalah pos terdepan Panglima Mandala Mayjen.TNI Soeharto, ketika melaksanakan Operasi Trikora dimana kapal komandonya KRI. Pulau Peleng bersiaga disini. Dari kawasan ini pula Herlina Kasim si Pending Emas, menerobos masuk (infiltrasi) ke Irian Barat dalam operasi Trikora bersama sukarelawan Indonesia untuk berjuang. Karena perjuangannya Herlina dianugerahkan Presiden Soekarno sebagai Pejuang Trikora dengan memberikan sebuah pending (ikat pinggang) yang terbuat dari emas murni 500 gram dan sejumlah uang Rp.10 juta saat itu. Karena Herlina ini adalah srikandi wanita Indonesia pertama yang turut serta dalam pertempuran di medan laga Irian Barat. Walaupun Herlina kemudian mengembalikan hadiah Presiden Soekarno itu kepada negara dengan alasan ia terpanggil berjuang bukan untuk mengejar hadiah, juga atas belas kasih dan simpatinya kepada teman-teman seperjuangan yang menjadi korban dan cacat dalam Operasi Trikora di medan laga demi kedaulatan Indonesia. Srikandi wanita inilah yang mengajarkan rakyat Irian Barat untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dari Halmahera ia melakukan infiltrasi ke Irian Barat semata-mata karena alasan kemanusiaan dan nasionalisme belaka. Dia juga pernah dielu-elukan ketika berhasil masuk Jayapura bersama pasukan sukarelawan Indonesia setelah infiltrasi dari Pulau Gebe menuju Sorong.

Bahwa hari ini, sepantasnya kita kembali menapaki jalan-jalan mereka untuk memberi takzim dan memotret nilai dibalik kejuangan mereka, agar kita tidak kehilangan jati diri. Bukan generasi pengidap amnesia dan menjadi bangsa yang ahistoris. Tentu saja ini semata karena terkandung nilai lebih yang melampaui zaman dari peristiwa2 diatas untuk kita teladani sebagai penerang jalan kedepan. Dan sebuah mutiara teladan lain adalah peristiwa yang ditorehkan Haji Salahuddin Talabuddin, seorang putera Gamrange nasionalis relijius yang sangat revolusioner melampaui zamannya.

Revolusi Haji Salahuddin

Bahwa riak-riak peristiwa sejarah lokal nusantara, senantiasa tidak berdiri sendiri. Demikian juga dengan peristiwa- peristiwa pada tataran lokal Maluku Utara, selalu terkait sebagai implikasi dari apa yang terjadi pada pentas nasional bahkan dunia (lihat: Henk Niemejer,PhD). Demikian halnya dengan apa yang terjadi di Halmahera. Bahkan dari Halmahera Tengah terkait jauh hingga Eropa. Siapa menyangka bahwa Halmahera Tengah pernah mendeklarasikan diri sebagai bagian dari kekaisaran Perancis berabad silam tepatnya pada 6 April 1770. Para kepala suku di Patani dan Gebe membanting bendera Belanda ke tanah dan menaikkan bendera Perancis lalu menyatakan kesetiaan pada kekaisaran Perancis. Dari sinilah Pierre Poivre (1719-1786), seorang missionaris Perancis menyelundupkan keluar bibit cengkih dan pala yang dimonopoli Belanda, hingga ke Zanzibar, Madagaskar, dan Martinique pada 1773 dan sukses tumbuh pada 1790-an (lihat: Des Alwi). Kita ketahui bahwa cengkih Zanzibar ini kemudian dikenal sebagai cengkih dengan kualitas terbaik di dunia sekarang. Ternyata bibit cengkih terbaik itu berasal dari Patani yang diselundupkan tersebut. Itupun setelah penyelundupan cengkih pertama di Pulau Mayau ternyata gagal dikembangkan di Mauritius.

Adapun Haji Salahuddin adalah putra kelahiran Gemia-Patani, Halmahera Tengah pada tahun 1874. Salahuddin tercatat sebagai anggota Syarikat Islam (SI) Merah pada 1928. Syarikat Islam memang memiliki magnitude politik yang luar biasa sekali pada era 1920-an karena ideologi Islam Populismenya. Sementara dunia internasional saat itu lagi terkesima dengan suksesnya Revolusi Bolshevik, 1917, yang berhasil meruntuhkan kekuasaan Czar Nicholas II dari Rusia dan membentuk Uni Sovyet (USSR) pada tahun 1920. Tidak mengherankan jika sosok-sosok seperti H.O.S.Tjokroaminoto, KH. Samanhudi, KH. Agus Salim, hingga Tan Malaka pada zamannya telah memekikkan cita kemerdekaan Indonesia kemudian mendapat tempat dihati banyak anak muda, termasuk Salahuddin. Bahkan para sejarawan sepakat bahwa SI adalah partai politik modern dalam sejarah politik kontemporer Indonesia. Halmana berbeda dengan Boedi Oetomo yang berbasis priyayi Jawa sekalipun berdirinya Boedi Oetomo dicanangkan sebagai awal kebangkitan nasional. Tokoh seperti Salahuddin juga muncul sebelumnya di Solo misalkan Haji Misbach (Haji Merah) yang dibuang ke Manokwari (1924) oleh pemerintah kolonial hingga meninggal (1926) tanpa kejelasan nisannya. Salahuddin muda tidak sendirian karena ada pemuda Maluku Utara lainnya seperti Ali Kama, Daniel Bohang, Haji Ngade yang juga tertarik dengan pergerakan kemerdekaan sejak awal. Bahkan pada pemberontakan Silungkang di Sumatera Barat (1926-1927), mereka ini telah terlibat karena janji kemerdekaan Indonesia oleh pihak komunis. Haji Ngade seorang kelasi pada Angkatan Laut KNIL bahkan terlibat dalam pemberontakan pengambil-alihan kapal perang KNIL Zeven Provincien pada 5 Februari 1933 di Pantai Sumatera. Pemberontakan diatas kapal perang ini dilumpuhkan dengan pemboman oleh pesawat Angkatan Udara KNIL atas ruang kemudi kapal tersebut di Selat Sunda karena pasukan pemberontak menolak menyerah. Haji Ngade kemudian dipecat dari pasukan KNIL dengan tidak hormat. Adapun Ali Kama selama dalam pengasingannya di Boven Digoel, menempati kamar yang sama dengan Bung Hatta. Atas pengaruh kuat Hatta, pemuda Ali Kama kemudian meninggalkan komunisme setelah bebas dari Digoel dan menjadi Ketua Masyumi Maluku Utara pasca kemerdekaan hingga Masyumi dibubarkan Ir. Soekarno. Sedangkan Daniel Bohang, hingga akhir hayatnya di Ngidiho, Galela, tetap meyakini revolusi komunisme sebagai jalan pembebasan bangsa-bangsa tertindas. Memang periodisasi Digoel ini cukup memberikan transformasi ideologis bagi tokoh-tokoh muda pergerakan pada zamannya. Juga Ismail Sangaji di Sula bahkan setelah pengasingannya di Boven Digoel, menjadi seorang nasionalis marhaenis pendukung Bung Karno sejati dengan menjadi anggota PNI hingga akhir hayatnya. Dari beliaulah kita mengenal ‘Dibawah Bendera Revolusi’ nya Ir.Soekarno. Mereka para ex digulisten (mantan tahanan Digoel) ini sangat memberi warna dalam pergerakan revolusi kemerdekaan Indonesia di persada Maluku Utara.

Adapun Haji Salahuddin menjadi anggota PSII sejak 1938. Atas gerakan politik Salahuddin yang dicap revolusioner ini menyebabkan Haji Salahuddin ditangkap dan dibuang ke Boven Digoel, Papua pada 1941. Namun dibebaskan pada masa pendudukan Jepang pada 1942. Dari Raja Ampat, hingga Pulau Gebe nyala api revolusi kemerdekaan tetap dipekikkan Salahuddin dengan mendirikan ‘Syarikat Jamiatul Iman wal Islam.’ Salah satu anggota pergerakan sayap perempuan itu tercatat Ibu Aisyah Tengku Idris (Ibundanya dr. Abdul Gafur). Salahuddin melancarkan pemberontakan pada 1947 yang melibatkan seluruh komponen rakyat Halmahera dengan tidak memandang batas etnis dan agama. Karena pengikut Haji Salahuddin juga tercatat masyarakat desa Kobe dan sekitarnya yang mayoritas beragama Nasrani namun pro kemerdekaan. Pemberontakan Salahuddin memiliki alasan utama sebagaimana cita awalnya yakni memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan menolak kembalinya kekuasaan kolonial Belanda. Sebagaimana kita ketahui, sekalipun Proklamasi 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta dikumandangkan, namun upaya Belanda tetap ada untuk kembali menjajah Indonesia. Padahal sejak menyerahnya Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Stakenbourgh Stachouwer dan Panglima KNIL Letjen. Hein Ter Poorten, kepada Panglima Tentara Dai Nipon, Jenderal Hitoshi Imamura di Kalijati pada 8 Maret 1942, maka secara de facto maupun de jure kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia telah berakhir. Tetapi pasca proklamasi, Indonesia juga masih di serbu oleh militer Belanda sebanyak dua kali dalam Agresi Militer I dan II pada 1947 dan 1948. Belanda tidak tanggung-tanggung karena mengerahkan 220,000 tentaranya terdiri dari 160,000 orang Belanda dan 60,000 pasukan KNIL dibawah pimpinan Jenderal Simon Hendrik Spoor (lihat: Asvi Warman Adam). Di Maluku Utara sendiri pasukan KNIL masih bercokol di Benteng Oranje, Ternate sebaagai markasnya hingga 1950. Hal ini berlangsung hingga pelaksanaan KMB Desember 1949 di Den Haag. Perlucutan pasukan KNIL dan penurunan Bendera Belanda di benteng Oranje, Ternate dilakukan oleh Batalion Branjangan dari Jawa Timur, dibawah pimpinan Mayor Inf. Moedjain. Pasukan TNI ini dikirim oleh Menteri Pertahanan Sultan Hamengku Buwono IX (lihat: dr. Abdul Gafur). Itupun terjadi karena didahului insiden bentrokan pasca pidato Perdana Menteri NIT, Ida Anak Agung Gede Agung, pada 1948 di Balkon Kedaton Ternate antara pasukan KNIL dibawah pimpinan sersan mayor Simon Pieterz dengan pemuda pendukung kemerdekaan yang pro-republik. Pasukan KNIL sempat mengobrak-abrik Mesjid Falajawa sebagai basis pemuda pro-republiken. Pemuda pro kemerdekaan kemudian mengirim utusan Abubakar Bachmid ke ibukota R.I, Jogyakarta, untuk meminta Menhankam Sultan HB IX segera mengirim Pasukan TNI ke Maluku Utara (1949).

Walaupun Pasukan KNIL masih bercokol di Ternate, tetapi Salahuddin dalam perlawanannya mengklaim Halmahera sebagai wilayah kedaulatan republik Indonesia dan tidak tunduk pada kekuasaan kolonial Belanda (NICA) karena Indonesia telah diproklamirkan Soekarno-Hatta sejak 17 Agustus 1945. Pasukan Belanda awal yang tiba di Weda dipimpin oleh Paparang, untuk menangkap Salahuddin gagal dan dipukul mundur oleh Lasykar Wanita dimana salah satu pelakunya adalah Ibu Aisyah Tengku Idris. Tetapi Salahuddin kemudian dijemput beberapa hari kemudian oleh Muhammad Djabir Sjah, Sultan Ternate dalam kapasitasnya sebagai Residen Maluku Utara. Sempat terjadi dialog kecil antara Muhammad Djabir Syah dan Salahuddin. Ia kemudian menyerahkan diri dan ditahan. Salahuddin lalu diadili pada Landraad (pengadilan kolonial) Ternate yang dilaksanakan di Tidore. Sempat dalam penjara kolonial di Ternate, Ibu Aisyah dan Abdul Gafur kecil masih menyempatkan diri datang menjenguk Haji Salahuddin di penjara Ternate. Dan vonis Landraad memutuskan Haji Salahuddin dengan pidana mati. Iapun kemudian dieksekusi didepan regu tembak di Skep Ternate dan jenazahnya dikebumikan di Pekuburan Islam Ternate.

Yang patut dicatat adalah selama dalam proses persidangan, Haji Salahuddin tidak mengakui hukum kolonial yang didakwakan kepadanya, karena ia bersikukuh Indonesia telah bebas merdeka sejak detik di Proklamasikan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945. Halmana tercantum dalam pledooinya. Gubernur Jenderal Hubertus Johannes van Mook di Jakarta juga menolak grasi Salahuddin yang justeru diajukan oleh Jaksa. Salahuddin gugur sebagai syuhada didepan regu tembak pada Juni 1948, dengan tetap berkeyakinan akan perjuangannya atas kemerdekaan Indonesia dan syiar Islam. Ia pantang menyerah dalam keyakinan akan cita-cita tersebut hingga dijemput maut diujung peluru kolonial. Sungguh sebuah kematian yang sangat puitis.

Bagi kita generasi kini, nilai kejuangan Salahuddin itu dapatlah di simpulkan dalam beberapa point ; (1). Nasionalisme keindonesiaannya yang demikian kuat, sekalipun NKRI adalah negara yang baru saja merdeka (2). Perjuangannya tidak mengenal politik identitas atas nama etnis, agama dan bahkan batas wilayah, (3). Berjuang bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Epilog

Agar tidak menjadi bangsa yang tidak pandai bersyukur, apalagi pelupa, kita patut mengenang jasa dan nilai yang ditinggalkan seorang pejuang seperti Salahuddin. Keikhlasan dan pengorbanan yang luar biasa hingga berujung ajal, adalah sesungguhnya nilai kejuangan yang melampaui zaman. Karena pejuang yang sesungguh adalah seorang yang telah selesai dengan dirinya, ia mampu melampaui zamannya. Nilai keteladanan ini sangat dibutuhkan ditengah carut-marut politik maupun era neo-libs dimana kita dibanjiri informasi hoax dan sebagainya, banjir modal, menguatnya politik identitas karena miskin nurani dan godaan hedonisme globalisasi dan materialistik yang justeru kontra-produktif. Dan keteladanan itu ternyata tidak berada jauh dari kita, jika saja kita mau merenung dan menyimak kejuangan para pendahulu kita.

Untuk itu saya menyarankan perlu ada semacam monumen Salahuddin Talabuddin, entah itu berupa nama jalan, perpustakaan atau sebuah museum juang kecil di bumi Fagogoru ini. Biar catatan-catatan kejuangan para tokoh sebesar ini tidak menghilang terbang bersama angin lalu. Bisa saja museum kecil tersebut berisi kisah dr.Chasan Busoeiri, berisi replika KRI. Pulau Peleng sebagai kapal komando Panglima Mandala, Soeharto dalam Operasi Trikora yang menggenapkan kedaulatan wilayah NKRI. Karena tanpa penggalan-penggalan peristiwa ini, Indonesia tidak selengkap hari ini yang sedang kita nikmati.

Tentu pula disitu tersimpan jejak riwayat sang revolusioner sunyi Haji Salahuddin, dr.Chasan Boesoeirie dan lainnya. Agar memori kita tidak lagi pendek.

Sejarah Lokal pada Kurikulum Lokal

Tak kalah penting juga adalah saatnya muatan kurikulum lokal dunia pendidikan Maluku Utara sudah saatnya dan perlu memasukkan materi sejarah lokal yang terkait dengan sejarah bangsa ini. Agar peserta didik, generasi pelanjut, tidak menjadi terputus mata rantai sejarah (historical-discontinuity) dengan nilai-nilai kejuangan kebangsaan ditengah arus besar perubahan dewasa ini. Dari situlah perjuangan Haji Salahuddin, bukan lagi sekedar nyanyi sunyi seorang revolusioner dari bumi Gamrange, Halmahera.

Adapun catatan pendek ini tentu masih jauh dari lengkap dalam mengungkapkan sepak terjang perjuangan Haji Salahuddin dan dr.Chasan Boesoeirie juga yang lainnya. Halmana tentu saja dikarenakan keterbatasan referensi dan sumber sejarah lainnya. Untuk itu historiografi daerah ini menjadi sebuah keniscayaan atau qonditio sine quo non. Karena membangun daerah ataupun bangsa, dengan infra struktur fisik semata, tanpa aspek nilai sosial-kultural maupun historisnya, sesungguhnya adalah sebuah ketimpangan. Kodrati manusia sesungguhnya adalah mahluk sejarah (homo historicitatis). Sejarah adalah guru kehidupan, historia magistra vitae. Tanpa sang guru kehidupan ini, maka kita secara sadar telah memilih berjalan dalam kegelapan, tanpa penerangan.

Mari kita memupuk kebanggaan sebagai anak negeri sendiri…Tentu niat baik ini sama sekali tidak bermaksud menumbuhkan politik identitas atau chauvinisme lokal yang justeru kontra produktif dan bertentangan dengan warisan dan teladan pejuang pendahulu. Semoga…..

(Kepada setiap putera bangsa, terutama anak negeri Gamrange, tulisan pendek ini dipersembahkan).

Wallahu a’lam.

Bumi Fagogoru, 28 Maret 2018.

Download

Comment

ARSIP Majalah dan Koran LENTERA

Majalah dan Koran LENTERA ini Terbit Sejak 2011 hingga 2014.

Terbaru

Pemangku Adat Kerajaan Loloda Dikukuhkan

LENTERA MALUT — Dalam upaya mengembangkan nilai-nilai adat se-atorang di bumi Ngara Mabeno, pada Jumat, 6 Desember 2019, bertempat di Desa Soa-SioKec. Loloda Kabupaten...

PT. Bank Aceh Syariah Bireuen Gelar Seminar...

LENTERA ACEH — PT Bank Aceh Syariah Cabang Bireuen kembali menggelar Seminar/Talkshow UMKM yang ke sekian kalinya ditahun 2019. Kali ini bank kebanggan masyarakat...

Penemuan Mayat Tanpa Identitas, Gegerkan Warga Kota...

LENTERA ACEH – Penemuaan mayat disebuah alur di Dusun Makmur kawasan Gampong Baro Kecamatan Langsa lama, sempat membuat geger warga Kota Langsa pada Selasa...

Bimtek : Membangun Generasi Cerdas Berkarakter di...

LENTERA ACEH – Bimbingan Teknis Pengimbasan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) integrasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Pidie Jaya kali ini merupakan hal istimewa,...

Direktur Ma’Had Alkazim Menerima Pelakat Sebagai Cendramata...

LENTERA MALUT – Dalam Rangkaian kegiatan penyerahan 40.000 Al Qur’an plus 5.000 Iqra’ oleh Badan Wakaf Al-Quran (BWA) ke Halmahera atau di kenal...

Terpopuler

Sidang Kasus Pemurtadan Siswa, Hakim Diminta Jatuhi...

Lentera.co.id -- Pengadilan Negeri Ternate kembali melanjutkan sidang kasus dugaan pendangkalan aqidah yang dilakukan Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) dan Gerakan Mencegah...

Baru Pertama Kali, 13 Negara Dukung Palestina

Aceh.Lentera.co.id – Pertama kalinya sepanjang sejarah voting Dewan Perserikatan Bangsa Bangsa, 13 negara mengubah sikapnya terhadap Israel. Mereka menolak rancangan resolusi tahunan badan PBB...

WNI Ini Dituduh Incar Separuh Kekayaan Suaminya

LENTERA.CO.ID -- Wanita asal Surabaya Novy Chardon dituduh mengincar separuh harta kekayaan suaminya John William Chardon, termasuk perusahaan, investasi pertambangan, serta dana...

Foto tak Senonoh Diduga Bupati Aceh Jaya...

LENTERA ACEH – Nama Bupati Aceh Jaya Irfan TB kembali jadi buah bibir. Kali ini bukan proses hukum, terkait dugaan pelecehan seksual terhadap N...

Video Kelemahan dan Kelebihan All New Terios

Daihatsu Terios pertama kali terjun ke pasar Tanah Air 2006 silam. Setelah berumur 10 tahun lebih, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sadar kalau persaingan...

Terbukti Nyabu Bersama Oknum TNI di Sebuah...

LENTERA ACEH – Prosesi eksekusi hukuman cambuk kembali di gelar oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh terhadap...

Hingga Larut Malam, Ratusan Mahasiswa Masih Duduki...

LENTERA MALUT — Ratusan mahasiswa datangi Polres Ternate, pada Senin, 2 Desember 2019 malam ini. Mereka datang bersolidaritas terhadap 10 orang rekan mahasiswa yang...