Penerang Pembaca

Arsip 2015

Milad GAM, Momentum Aceh Bangkit

Bagikan :

LENTERA ACEH — Penulis:

Setiap sejarah pasti ada kenangan dan pengalaman baik yang pahit dan manisnya di terima oleh pelaku dan generasi. Hari ini, kita semua mengetahuai konflik Aceh bukanlah drama yang di tayangkan tapi fakta pengorbanan bangsa Aceh untuk kedaulatan rakyatnya sendiri ,atas segala pengorbanan nyawa, harta benda,keluarga. Kini atas rahmat Allah SWT, konflik bersenjata telah berakhir dengan dicapainya kesepakatan damai (MoU) antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia (RI) pada15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia.

Hari ini Milad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ke-43, yang jatuh tepat pada hari Rabu, 4 Desember 2019 adalah merupakan satu momen mengenang pergerakan perjuangan merebut kembali kemerdekaan Aceh pada 4 Desember 1976 ketika Dr. Muhammad Hasan Ditiro memproklamasikan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Gunung Halimun, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Tentunya ini semua tidak mudah dan indah, tapi dengan kekompakan rakyat Aceh semua berjalan baik demi mengankat marwah bangsa Aceh. Memperingati Milad dilakukan dalam bentuk upacara pengibaran bendera bulan bintang dan parade pasukan GAM harus di pertahankan dan jadi simbol kekuatan dan kekompakan Bangsa Aceh merawat dan menjaga setiap hasil perjuangan.

Dalam hal ini Peringatan Milad GAM tersebut harus dilakukan oleh semua wilayah hingga sagoe dalam struktur Gerakan Aceh Merdeka dari mulai komando pusat hingga desa-desa.

Setiap yang harus jadi budaya dan adat dalam generasi akan datang, saat itu kondisi diperkampungan maupun perkotaan menjadi mencekam, sehingga mengakibatkan atau berdampak kepada perekonomian masyarakat yang menjadi lesu dan sepi.

Kini perdamain sudah kita rasakan dalam bingkai NKRI namun dengan UUPA kita harus di bekukan dalam qanun Aceh demi suatu masa jangan Hilang pada generasi akan datang, mengapa Milad ini Hasan Tiro menetapkan 4 Desember, karena alasan simbolis dan historis. Keputusan ini merujuk pada peristiwa Belanda yang berhasil menembak dan membunuh Kepala Negara terakhir Aceh-Sumatra, Tengku Tjhik Maat di Tiro, di medan perang Alue Bhot, Tangse pada 3 Desember 1911.

Maka dari itu, mengenang masa lalu adalah pengalaman untuk dijadikan pedoman masa yang akan datang, maka Hari ini Semua elemen di Aceh harus bersatu untuk meminta pemerintah pusat merealisasikan semua butir MoU Helsinki dan peraturan turunan UUPA yang selama ini hanya jadi pembicaraan atau simbul di media hingga realisi itu hanya jadi mimpi.

Maka dalam hal ini ada persoalan yang belum tuntas yang harus di selesaikan, seperti Qanun tentang Bendera dan Lambang Aceh,KKR dan lainya yang belum bisa dilaksanakan secara sempurna. “Padahal ini masalah yang harus di prioritas oleh pemerintah pusat selesaikan, demi mambangun Aceh yang lebih baik. Maka pemerintah pusat harus serius dalam menangani masalah aceh agar tidak kembali menimbulkan konflik di kemudian hari.

Hari ini Bangsa Aceh, merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsa-bangsa di dunia baik dari sejarah dan historis dari masa ke masa hingga Aceh ingin mengolola sendiri jadi Negara, yang berdiri tegak dan sejajar dengan bangsa dan negara lain. Itu sebabnya, konflik bersenjata antara GAM dan Pemerintah Indonesia bukanlah persoalan sepele dan dalam kurun waktu yang konon lama, yang mana telah banyak mengakibatkan pengorbanan harta, darah dan nyawa para syuhada yang telah syahid dalam medan perjuangan, dengan meninggalkan ribuan anak yatim serta janda korban konflik. Maka pada saat ini sangat dibutuhkan perhatian dan pemberdayaan dari kita Pemerintah Aceh yang hingga kini masih jadi Problema didalam masyarakat menuntut hak keadilan baik dari pemerintah Aceh atau pemerintah pusat. Dimana masa perdamaian Aceh sudah 14 tahun berjalan, rakyat Aceh merasakan nikmatnya perdamaian, namun seiring perjalanan walau, masih ada rakyat yang belum merasakan cahaya lampu, masih menempati rumah tidak layak hingga Ekonomi yang carut-marut, lapangan kerja sempit hingga rakyat masih menjerit.

Dalam hal ini, sudah saatnya pemerhati Aceh perlu segera membuat trobosan dalam gagasan untuk mensejahterakan Rakyat. Di Kepemimpinan GAM berada dibawah Paduka Yang Mulia, Wali Nanggroe Tgk Malek Mahmud Al-Haytar serta satu komando dibawah Panglima GAM, Ketua Komite Peralihan Aceh bapak Muzakir Manaf serta para panglima wilayah sudah saatnya mengevaluasi internal Politik Aceh demi keselamatan Perdamaian dan rakyat sejahtera, adil, makmur yang baldatun tayyibatul wa rabbulghafur.

Perlu di kita ingat bersama, Sebuah sejarah besar 4 Desember 1976, merupakan hari bersejarah lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang didirikan Paduka Yang Mulia, almukaram Tgk DR. Muhammad Hasan Ditiro, Wali Neugara Aceh. Tujuannya, menjadikan Bangsa Aceh berdaulat di negeri sendiri, adil dan makmur, bernafaskan Islam serta sebagai pemilik sah atas berbagai kekayaan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM), maupun khasanah budaya dari sejarah panjang Bangsa Aceh sendiri, sebagai satu bangsa yang berdaulat di atas dunia.

Maka ini semua belum selesai, Yang harus di perjuangkan bersama untuk menyelesaikan pekerjaan besar untuk rakyat, dalam hal ini untuk memenuhi seluruh point-point yang tertuang dalam MoU Helsinki serta UUPA perlu segera langkah para elit politik Aceh dan pejuang Aceh, sebagai bagian tak terpisahkan dari kekhususan dan keistimewaan Aceh, menuju keadilan, kemakmuran dan kesejateraan bagi rakyat Aceh yang kita dambakan, sekarang dan masa akan datang yang kita impikan. Bila hari ini tidak ada yang peduli tentang sejarah Aceh, maka akan jadi dongeng di kemudian Hari pada Generasi yang akan datang. Oleh karenanya, tugas dan tanggungjawab kita semua untuk menjaga, merawat serta mengisi perdamaian Aceh untuk generasi masa yang akan datang hingga perdamaian menuju kemerdekaan bagi rakyat Aceh yang diimpikan.

Untuk mengevaluasi 14 Tahun perdamain Aceh yang di rasakan Rakyat, perlu terus dilakukan Evaluasi, niat dan mimpi masa lalu yang masih tertunda untuk seluruh elemen rakyat Aceh. Sebab, MoU Helsinki dan UUPA, bukan hanya menjadi milik GAM. Tapi, juga rakyat Aceh. Patut disadari dan kita ingatkan, lahirnya MoU Helsinki dan UUPA, merupakan “pengorbanan nurani dan ideologi” dari para pejuang GAM Masa lalu,menuju perdamaian abadi bagi rakyat Aceh dimasa depan,” maka wajar milad ini di lakukan dalam bentuk syukur bangsa Aceh di desa hingga seluruh kabupaten/kota.
Dalam hal ini Hasilnya setelah pejuangan panjang yang telah membawa dan memberi warna baru dalam tata kelola pemerintahan Aceh baik hari ini baik di bidang , politik, budaya, ekonomi serta anggaran pembangunan bagi Aceh. Tanpa MoU Helsinki yang dijabarkan dalam UUPA, tak mungkin semua itu kita dapatkan oleh rakyat Aceh saat ini .Oleh Karenanya,mari kita seluruh rakyat Aceh sudah sepatutnya sadar bahwa, sumber daya alam yang kita miliki kita kelola dan rawat, pada akhirnya akan habis di masa akan datang. Karena inilah, butuh pemikiran dari berbagai elemen rakyat Aceh, untuk mencari dan menggali berbagai potensi ekonomi baru, bagi masa depan anak dan cucu kita semua. Sekali lagi, dengan tetap berpijak pada MoU Helsinki dan UUPA dambaan kita semua.
Dalam hal ini jangan pernah lupa jasa Teungku Muhammad Hasan di Tiro dimana perlu kita ingat dan kenang dan harus di ajarkan pada generasi karena beliau sosok sentral dibalik lahirnya ide perjuangan GAM. Beliau juga dengan penuh kerelaan dan ketulusannya meninggalkan kemapanan hidup serta keluarganya demi memperjuangkan keadilan dan kedaulatan bagi seluruh Rakyat Aceh.

Di kesempatan ini “Sosok Teungku Muhammad Hasan sulit kita temukan penggantinya pada masa ini , beliau adalah putra terbaik Rakyat Aceh yang pernah terlahirkan dengan kelebihan dan keistimewaan yang hingga kini belum kita temukan gantinya.

Bukan hanya soal intelektualitasnya, namun juga menyangkut kuatnya ideologi dan nasionalisme keacehan yang ada pada dirinya yang mungkin pada generasi hari ini sudah pudar, dalam hal itu sosokTgk Hasan Tiro yang mesti menjadi teladan bagi generasi muda Aceh saat ini hingga kedepan nantinya. Nasionalisme dan idelologi keacehannya, kecintaan dan kesetiaannya akan Bangsa Aceh baik, intelektualitas, keberanian, komitmen dan konsistensi dalam perjuangan kedaulatan Aceh adalah hal yang sulit ditemukan bandingannya pada masa kini pada Generasi Melenial. Maka segala jasa dan kontribusi untuk Aceh patut kita berikan gelar pahlawan baginya.

Untuk itu Lebih jauh kita harus melestarikan sejarah perjuangan serta mendorong generasi muda kita untuk meneladani dan menjadikan beliau sebagai salah satu panutan generasi penerus Aceh dimasa depan.

Maka Milad GAM 4 Desember sangatlah berguna yang tersirat dikemukakan oleh Tgk Hasan Tiro kepada generasi Aceh adalah kebangkitan Aceh yang merdeka yang masih tertunda.

Deklarasi Aceh Merdeka pada 4 Desember 1976 juga merupakan kebangkitan Aceh untuk memperoleh kemerdekaan Kembali di masa lalu . Sesuatu keniscayaan yang harus nantinya bangsa Aceh bisa mandiri baik politik, ekonomi dan sosial budaya. Dengan kata lain Aceh harus menjadi daerah yang bisa mengatur diri sendiri baik hukum, SDM, SDA dan terbebas dari belenggu penjajahan.

Pasca perdamai, semoga momentum Milad Gerakan Aceh Merdeka dapat dijadikan spirit kebangkitan membangun Rakyat Aceh lebih baik dan merata hingga kepelosok desa. Baik sandang , pangan dan papan hingga pembangunan sosial budaya yang merata agar rakyat sejahtera sebagai mana keinginan Rakyat Aceh sendiri yang harus di sempurnakan.

Walaupun badai konflik telah berlalu namun upaya untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan adalah upaya selanjutnya yang harus di lakukan oleh Pemerintah Aceh sendiri baik sekarang dan masa akan datang dalam program-program yang merakyat demi aceh merdeka dari segala lini.

Maka Hendaknya peringatan Milad bukan diartikan sebagai serimonial oleh orang tertentu akan tetapi dapat dijadikan pesan dan semangat kembali untuk kita semua melakukan refleksi kebangkitan Aceh pasca damai menuju masyarakat yang Taibatun warabbulghafur.

Semoga Aceh bisa bangkit dari kemiskinan dan ketinggalan dan terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat, sehingga hasil damai benar – benar menjadi milik bangsa Aceh seutuhnya dan rasa keadilan bagi seluruh Bangsa Aceh Harus dilanjutkan bila terhenti.

Kita doakan para syuhada agar di ampunkan segala dosa dan ditempatkan dalam syurga jannatunna’im, bagi keluarga yang di tinggalkan sabar dan tabah doakan para saudara kita yang telah meninggal dan yang masih tinggal teruslah berbuat baik dan mengenang masa perjuangan waktu itu, bila ada amanah dan jabatan yang di embankan dari hasil suara rakyat, bantu mareka dan kelola amanah itu dengan baik.

Apapun kondisi Aceh damai seperti ini karena ada perjuangan dan nikmat Allah SWT yang harus kita syukur, maka lakukan perubahan dan kebaikan untuk rakyat sekecil apapun mulai sekarang hingga selamanya.

Tulisan ini sudi kiranya dapat menjadi pegalaman dan pengigat bagi kita semua untuk merawat yang sudah ada tanpa harus mehilangkan yang lama.

Penulis adalah Ketua GPPM Aceh, Mahasiswa, Pasca Sarjana IAIN Malikusaleh Lhokseumawe, Kabid Pemberdayaan Umat Badko HMI Aceh.

Download

Comment

ARSIP Majalah dan Koran LENTERA

Majalah dan Koran LENTERA ini Terbit Sejak 2011 hingga 2014.

Terbaru

ACEH : Daerah Istimewa Dan Otonomi Khusus...

LENTERA ACEH – Penulis : Raja Alqausar Aceh adalah salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status sebagai daerah istimewa dan juga diberi kewenangan otonomi...

Rasa rindu menanti

Sebait puisi mencurahkan rasa Mengurai aksara dalam karya Dilangit jiwa menguntai syahdu Melebur sunyi merengkuh rindu Bait demi bait terangkai indah Semilir angin tetapkan rasa Bervegas pawana menari Meliuk lenggang menebar...

Warga Keluhkan Kuala Baru Laut yang Dangkal....

LENTERA ACEH – Meski sudah berulang kali dilaporkan terkait dangkalnya Kuala Baru Laut, Kecamatan Kuala Baru, Singkil, namun sampai saat ini kondisi Kuala Kuala...

Puskesmas Nggele Ikut Seleksi Akreditas, Kadis Kesehatan:...

LENTERA MALUT – Puskesmas Nggele, Pulau Taliabu, mengikuti tahapan akreditasi yang digelar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (KA FKTP),...

Kasdam Buka Sosialisasi Pembekalan Rencana Program Kerja...

LENTERA ACEH – Kasdam IM, Brigjen TNI A Daniel Chardin S.E membuka Sosialisasi Pembekalan Rencana Program kerja dan Anggaran Kodam Iskandar Muda Ta 2019...

Terpopuler

Sidang Kasus Pemurtadan Siswa, Hakim Diminta Jatuhi...

Lentera.co.id -- Pengadilan Negeri Ternate kembali melanjutkan sidang kasus dugaan pendangkalan aqidah yang dilakukan Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) dan Gerakan Mencegah...

Baru Pertama Kali, 13 Negara Dukung Palestina

Aceh.Lentera.co.id – Pertama kalinya sepanjang sejarah voting Dewan Perserikatan Bangsa Bangsa, 13 negara mengubah sikapnya terhadap Israel. Mereka menolak rancangan resolusi tahunan badan PBB...

WNI Ini Dituduh Incar Separuh Kekayaan Suaminya

LENTERA.CO.ID -- Wanita asal Surabaya Novy Chardon dituduh mengincar separuh harta kekayaan suaminya John William Chardon, termasuk perusahaan, investasi pertambangan, serta dana...

Foto tak Senonoh Diduga Bupati Aceh Jaya...

LENTERA ACEH – Nama Bupati Aceh Jaya Irfan TB kembali jadi buah bibir. Kali ini bukan proses hukum, terkait dugaan pelecehan seksual terhadap N...

Terbukti Nyabu Bersama Oknum TNI di Sebuah...

LENTERA ACEH – Prosesi eksekusi hukuman cambuk kembali di gelar oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh terhadap...

Video Kelemahan dan Kelebihan All New Terios

Daihatsu Terios pertama kali terjun ke pasar Tanah Air 2006 silam. Setelah berumur 10 tahun lebih, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) sadar kalau persaingan...

Hingga Larut Malam, Ratusan Mahasiswa Masih Duduki...

LENTERA MALUT — Ratusan mahasiswa datangi Polres Ternate, pada Senin, 2 Desember 2019 malam ini. Mereka datang bersolidaritas terhadap 10 orang rekan mahasiswa yang...