Sifat Pungli Lebih Jahat dari Pencuri, Begini Dosanya

"Tidak akan masuk surga orang yang kerjanya melakukan pungutan liar."

0
32
ilustrasi-pungli

Lentera.co.id — Kajian yang dibawakan Ustaz Nizar Sa’ad Jabal di Masjid Nurullah Jakarta membahas tentang dosa pungutan liar yang ditulis dalam kitab al-Kabair. Imam adz-Dzahabi memasukkan pungutan liar (makes) ke dalam salah satu contoh dosa besar. Pungutan liar yang dimaksud terdapat pada hal jual beli. Dalam HR Abu Dawud, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang kerjanya melakukan pungutan liar.” 

Ustaz Nizar Sa’ad menyebut dalam bahasa Arab, al-makes berarti mengurangi atau memotong milik orang. Hal Ini termasuk dalam dosa menzalimi orang lain. “Secara istilah, uang yang diambil dalam al-makes ini berasal dari para pedagang barang di pasar pada masa jahiliyah. Ada orang-orang yang berjualan, lalu dipunguti uangnya, di minta untuk membayar sekian. Ini bisa disebut sebagai preman pasar, pungutan liar,” ujar Ustaz Nizar, belim lama ini.

Dalam kitab Syarhus Sunnah, yang dimaksud al-makes adalah mereka yang memungut dari para pedagang ketika melewati daerah mereka. Pungutan ini biasanya besarannya 10 persen. Dalam QS asy Syura ayat 42, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dosa itu ditimpa kan atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu men dapat azab yang pedih.” Ibnu Katsir menafsirkan, “Dosa akan ditimpakan kepada mereka yang me mulai berbuat kezaliman.” Kezaliman ini akan diberikan kepada orang yang tibatiba datang dan mengambil uang tanpa unsur kebenaran.

Ustaz Nizar pun menceritakan tentang kisah seorang sahabat Nabi. Sahabat diceritakan mengangkat seorang teman menjadi karyawan di tempat ia bekerja. Ia pun menuliskan sebuah wasiat kepada temannya, yang isinya, “Jika kamu mampu malam ini untuk tidak tidur melainkan tidur dalam kondisi tubuh ringan dan perutmu kosong, kedua tangan mu bersih dari darah-darah orang Islam, harta-harta mereka, jika kamu mampu melakukan itu, maka kamu tidak ter masuk dalam ayat asy Syura ayat 42 ini.”

“Pesan dari kisah ini, kalau dalam bekerja kita tidak pernah mengambil uang orang yang bukan hak Anda, lalu Anda sendiri berusaha untuk mendapat uang, maka Anda akan tidur dengan cara yang ringan. Menzalimi orang, mengambil hak orang, itu tidak diperbolehkan,” lanjut Ustaz Nizar.

Di dalam sebuah hadis diceritakan tentang seorang perempuan yang melakukan zina. Ia kemudian memberanikan diri bertemu dengan Rasulillah SAW, menyerahkan diri untuk menyucikan dirinya dengan dirajam. Dalam HR Muslim disebut, “Perempuan itu telah bertobat de ngan tobat yang andai dilakukan oleh pemungut liar, niscaya akan diampuni baginya.”

Ustaz Nizar menyebut mereka yang melakukan pungutan liar mirip dengan perampok jalanan yang sifatnya lebih jahat daripada seorang pencuri. Mereka yang berulang kali memungut upeti lebih zalim daripada orang yang adil dan meng ambil pungutan dengan kasih sayang dan tujuan baik. “Baik mereka yang menyediakan tempat, lalu mencatat dan mengambil uang, merupakan sekutu dalam dosa,” lanjut Ustaz Nizar.

Pajak disebut pula sebagai pungutan yang hukumnya berbeda bagi setiap ulama. Ada ulama yang menyebut pajak hukumnya haram mutlak. Namun, ada juga ulama yang menyebut pajak ini boleh dengan beberapa kriteria dan ketentuan.

Beberapa ketentuan yang dimaksud adalah negara dalam kondisi miskin, tidak mampu membiayai kebutuhan, dan demi kemaslahatan rakyat. Selain itu, pajak dibolehkan jika negara tidak memiliki sumber pendapatan dan digunakan untuk kemaslahatan lebih luas. Ke masla hatan ini bisa untuk pembangunan rumah sakit, sekolah, dan jalan untuk masyarakat beraktivitas.

“Syarat lainnya, ketika memungut pajak harus bermusyawarah dengan ula ma dulu untuk melihat apakah ini mem bawa maslahat atau tidak. Ulama lah yang tahu mana yang membawa maslahat atau tidak,” ujar dia.

Rep: Fariji/Sumber: Republika.co.id

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini