oleh

Sidang Kasus Pemurtadan Siswa, Hakim Diminta Jatuhi Putusan Seadil-adilnya

Lentera.co.id — Pengadilan Negeri Ternate kembali melanjutkan sidang kasus dugaan pendangkalan aqidah yang dilakukan Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) dan Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) di Kota Ternate pada pada Selasa, 10 September 2019.

Sidang dengan agenda pembacaan replik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini dihadiri langsung terdakwa bernama Liem alias Grace, didampingi dua penasehat hukumnya.

Replik yang dibacakan jaksa Windra bahwa pada pokoknya tidak sependapat dengan pembelaan yang dibacakan PH terdakwa.

Jaksa tetap pada tuntutannya, yakni 2 tahun penjara terhadap terdakwa dan menyatakan terdakwa terbukti bersalah turut serta gunakan surat palsu.

Atas replik tersebut, ketua majelis hakim meminta PH terdakwa untuk menyampaikan tanggapan atas replik jaksa secara tertulis.

“Kami sampaikan secara lisan saja pak majelis hakim,” kata PH terdakwa dalam persidangan.

Atas permintaan itu, majelis hakim kemudian mengiyakannya.

Adapun duplik dari terdakwa pada intinya tetap pada pembelaan (pledoi) yang dibacakan pada sidang sebelumnya.

Sidang rencananya akan dilanjutkan pada Selasa, 24 September 2019 dengan agenda pembacaan putusan.

Sebelumnya, pada sidang 3 September 2019 di Pengadilan Negeri Tobelo, terdakwa dari YBSN, Greis Yakob divonis bebas oleh majelis hakim.

Putusan ini jauh lebih ringan dari tuntutan JPU yang menuntut terdakwa 2 tahun penjara.

Seperti diberitakan, kegiatan mereka di Ternate yaitu sekitar 16-22 Februari 2019 dilakukan disejumlah sekolah dasar (SD) maupun SMP.

Di sekolah ini, mereka masuk dengan modus melakukan kampanye anti narkoba serta pendidikan seks usia dini. Hanya saja dalam prakteknya para siswa memakan biscuit yang di dalamnya terdapat gambar/symbol tertentu.

Sementara yang dilakukan di Kabupaten Pulau Morotai, setelah masuk di sekolah sekolah kemudian mengajak ratusan siswa ke pantai Army Dock melakukan semacam ritual hingga mandi di laut.

Menanggapi itu, Sekretaris KAHMI Maluku Utara, Hasbi Yusuf, mengatakan bahwa putusan majelis hakim PN Tobelo yang memutus bebas Greis merupakan putusan yang tidak bersahabat dan tidak memberikan rasa keadilan. Padahal, kata Hasby, apa yang mereka lakukan dengan menggelar karnaval merah putih di Army Dock, Morotai jelas-jelas upaya permurtadan yang mereka lakukan terhadap para siswa.

Ketua BKPRMI Malut ini meminta majelis hakim PN Ternate untuk memutus terdakwa Liem alias Grace dengan putusan yang seadil adilnya.

“Kami akan kawal betul perkara ini sampai dengan putusan nanti, begitu pun dengan perkara yang sama di Tidore,” kata Hasbi. (BM/mn)

Komentar