Penerang Pembaca

Arsip 2015

Mengenal Sosok di Balik Penahanan 1 Juta Muslim Uighur di China

Bagikan :

LENTERA NEWS — Setelah kerusuhan berdarah di sebelah barat China sepuluh tahun lalu, Partai Komunis China menugaskan seorang pejabat untuk mengatasi masalah ketertiban: seorang pria dari etnis Han yang fasih berbahasa Uighur, bahasa lokal warga minoritas muslim Turkic.

Dilansir dari merdeka.com, kini terungkap dari bocoran dokumen pria itu adalah Zhu Hailun. Dialah sosok yang berperan penting dalam merencanakan dan mengeksekusi program untuk menahan lebih dari 1 juta warga Uighur di kamp penahanan di Provinsi Xinjiang.

Bocoran dokumen yang diungkap pada 2017 itu ditandatangani oleh Zhu, pria yang kemudian menjadi kepala pimpinan Komisi Politik dan Hukum di Partai Komunis China wilayah Xinjiang.

Seorang ahli bahasa Uighur mengenali tanda tangan Zhu di kop surat beberapa halaman dokumen rahasia itu. Si ahli bahasa itu pernah bekerja sebagai penerjemah di Kashgar ketika Zhu menjawab sebagai salah satu pejabat di kota itu.

“Ketika saya melihat dokumen itu saya tahu itu dokumen penting,” kata ahli bahasa Abduweli Ayup yang kini tinggal di pengasingan, seperti dilansir laman AP bulan lalu. “Dia adalah orang yang ingin segalanya berada di bawah kekuasaannya. Segalanya.”

Zhu, 61 tahun, tidak menanggapi permintaan konfirmasi dari kantor berita The Associated Press.

Licik dan Penuh Tipu Daya

Jauh sebelum ramai pemberitaan soal nasib warga Uighur, Zhu banyak dibenci warga lokal.
Dia lahir di Jiangsu, pesisir China pada 1958. Semasa remaja saat China mengalami Revolusi Kebudayaan, Zhu dikirimkan ke daerah Kargilik, pedalaman Xinjiang. Dia tidak pernah keluar dari sana.

Zhu bergabung dengan Partai Komunis pada 1980 dan membangun kemajuan birokrasi di Zinjiang. Pada 1990-an dia sudah fasih berbahasa Uighur hingga bisa mengoreksi penerjemahnya sendiri ketika rapat.

“Kalau Anda tidak melihat langsung Anda tidak akan mengira dia etnis Han. ketika dia berbicara bahasa Uighur, dia benar-benar seperti orang Uighur karena dia tumbuh di sana,” kata pengusaha Uighur yang tinggal di Turki dan menolak identitasnya diketahui.

Pengusaha itu pertama kali mendengar nama Zhu dari sesama temannya orang Uighur yang menjalin hubungan bisnis dengan Zhu. Temannya itu sangat terkesan dan menyebut Zhu sosok yang sangat terampil, pejabat etnis Han di birokrasi Uighur yang bisa diajak bekerja sama. Namun setelah bertahun-tahun mengenal Zhu dan mengetahui soal penangkapan, si pengusaha itu kemudian punya kesimpulan berbeda.

“Dia orang yang licik dan penuh tipu daya. Dia sangat kejam karena memerintahkan penggerebekan rumah-rumah warga Uighur pukul 03.00 dan para petani di sana bisa menyanyikan lagu populer yang berjudul “Zhu akan datang” untuk mengolok-oloknya karena sifatnya yang demikian.

“Dia memberi perintah seakan petani itu adalah tentara. Kami semua adalah tentaranya,” kata Ayup.

Pengamanan Diperketat

Suatu ketika dalam sebuah pertemuan, kata Ayup, Zhu mengeluhkan soal para petani yang kesal karena diperintah menanam pohon tertentu ternyata diam-diam mendukung ekstremisme. Dia kemudian menyebut kita suci Alquran itu hanya omong kosong belaka.

“Tuhan kalian sampah,” kata Zhu memecah keheningan.

Ayup mengatakan Zhu menyamakan budaya tradisional Uighur dengan Afghanistan yang harus dimodernisasi.

“Dia melihat dirinya sendiri sebagai penyelamat. Dia mengira dia ada di sini untuk membawa kehidupan modern, ideologi modern kepada orang Uighur.”

Beberapa bulan setelah kerusuhan 5 Juli 2009 yang menewaskan ratusan orang di Ibu Kota Urumqi, Xinjiangm, Zhu akhirnya ditunjuk mengganti wali kota lama. Pejabat pusat pencari fakta di Urumqi menyimpulkan Zhu harus mengambil alih kota itu.

Setelah penunjukan itu Zhu menghabiskan waktu tiga hari di kantor polisi untuk memerintahkan pengamanan yang lebih ketat. Polisi merazia rumah-rumah penduduk, menangkapi orang-orang untuk diadili. Puluhan ribu kamera pengawas juga dipasang.

Namun bukannya mengatasi masalah karena perbedaan etnis, razia itu justru menerbitkan perlawanan. Masalah timbul pada April 2014, ketika Presiden Xi Jinping mengunjungi Xinjiang, beberapa jam setelah kepergiannya, bom meledak di stasiun kereta Urumqi, menewaskan tiga orang dan melukai 79 lainnya.

Xi berjanji akan memperketat pengamanan.

Pada 2016 Beijing menunjuk pemimpin baru di Zinjiang. Dia adalah Chen Quanguo. Chen punya reputasi sebagai pejabat yang keras dan merintis strategi pengawasan digital di Tiber.

Zhu adalah tangan kanan Chen. Sebagai orang yang ditunjuk memimpin masalah keamanan, Zhu mulai menerapkan sistem pemantauan menyeluruh yang bisa secara otomatis mengidentifikasi target untuk ditangkap.

Setelah Chen menjabat, ribuan warga Uighur mulai hilang. Bocoran dokumen memperlihatkan Zhu memerintahkan penangkapan massal dan meminta polisi menjalankan sistem pengawasan digital untuk menyelidiki orang yang pernah ke luar negeri dengan memakai aplikasi di ponsel. Stasiun televisi pemerintah memperlihatkan Zhu terus memantau kamp di Xinjiang, pos pemeriksaan, kantor polisi, dan mengawal langsung program penahanan massal.

Zhu kemudian mundur tahun lalu setelah usianya mencapai 60 tahun, sesuai dengan tradisi Partai Komunis untuk kader seperti Zhu.

Sumber: pan/merdeka.com

Download

Comment

ARSIP Majalah dan Koran LENTERA

Majalah dan Koran LENTERA ini Terbit Sejak 2011 hingga 2014.

Terbaru

Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Aceh, menggelar...

LENTERA ACEH- Informasi kegiatan sosial ini, disampaikan koordinator kegiatan Donor Darah dalam rangka HUT Gerindra ‪Ke 12‬, Rosmaini, Sabtu, 25 Januari 2020  Menurutnya, kegiatan ini...

Ketua SEMA UIN Ar-Raniry Terpilih Siap Tampung...

LENTERA ACEH – Pada tanggal 26 Januari 2020 merupakan saat yang bersejarah di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry karena telah sukses diadakannya pergantian Ketua...

Usung Tema Syariat Islam, SPMA Gelar BLC...

LENTERA ACEH – Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Wilayah Bireuen sukses menggelar panggung diskusi Bireuen Lawyer Club (BLC) ke-V dengan mengusung tema “Syariat Islam...

Cegah Virus Conora di Halteng, Nuryadin: Pemda...

LENTERA MALUT – Upaya mencegah Penyebaran virus corona yang berasal dari kota Wuhan, Cina, yang saat ini menjadi pemberitaan hangat di dunia Internasional harus...

Terpilih Menjadi Presma UIN Ar-Raniry, Reza: Kita...

LENTERA ACEH – Pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (Presma UIN Ar-Raniry) pada tanggal 25 Januari 2020 yang berlokasi di Gedung Museum UIN...

Terpopuler

5 Teknik Mengajar Masa Kini Untuk Guru...

LENTERA ACEH – Menurut Gropper didalam Wiryawan dan Noorhadi (1998), teknik mengajar masa kini untuk guru SD (Sekolah Dasar) harus berbasis latihan. Beliau...

Suamiku dan Handuk

LENTERA ACEH – Bersama lama sebelum halal (pacaran red) tak lantas membuatku tahu detail tentang suami. Kalau makes, mikes, filkes udah khatam lah ya....

Sidang Kasus Pemurtadan Siswa, Hakim Diminta Jatuhi...

Lentera.co.id -- Pengadilan Negeri Ternate kembali melanjutkan sidang kasus dugaan pendangkalan aqidah yang dilakukan Yayasan Barokah Surya Nusantara (YBSN) dan Gerakan Mencegah...

Muntasir, Cowok Ganteng Sang DPO Pengendali 41,6...

LENTERA ACEH – Wajah rupawan tak juga mencerminkan jika kelakuannya baik, seperti Muntasir (36) yang diamankan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung atas keterlibatan...

Baru Pertama Kali, 13 Negara Dukung Palestina

Aceh.Lentera.co.id – Pertama kalinya sepanjang sejarah voting Dewan Perserikatan Bangsa Bangsa, 13 negara mengubah sikapnya terhadap Israel. Mereka menolak rancangan resolusi tahunan badan PBB...

WNI Ini Dituduh Incar Separuh Kekayaan Suaminya

LENTERA.CO.ID -- Wanita asal Surabaya Novy Chardon dituduh mengincar separuh harta kekayaan suaminya John William Chardon, termasuk perusahaan, investasi pertambangan, serta dana...

Raih Suara Terbanyak, Hamdani S.Pd, M.Pd Terpilih...

LENTERA ACEH – Kepala SMAN 1 Bireuen, Hamdani S.Pd, M.Pd, terpilih sebagai ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA se Kabupaten Bireuen. Pemilihan tersebut berlangsung...