oleh

Berpakaian Preman, Oknum Polisi ini Menindak Mahasiswa dan Wartawan

TERNATE, LENTERA.CO.ID -Komite Solidaritas Perjuangan Buruh- Federasi Serikat Buruh Demokratik kerakyatan Maluku Utara (KSPB-FSEDAR Malut) Ternate, Maluku Utara melakukan aksi solidaritas terhadap buruh yang di PHK sepihak oleh subkontraktor dari perusahan Toyota pemasok Tier 2 Toyota, PT. Nanbu Plastik Indonesia di depan kantor cabang Toyota, Jl. Inpres Bastiong, Ternate Selatan, Ternate, Maluku utara, berakhir ricuh, minggu 9 September 2018.

Saat di pantau oleh media ini, kordinator lapangan (Korlap), Fandi Pomsa dikriminalisasi oleh oknum aparat kepolisian berpakaian preman memaksa Korlap untuk diangkut ke kantor kepolisian dengan cara menyeret. Namun massa aksi melindungi Fandi, sehingga akhirnya massa aksi juga di kejar dan di dorong oleh aparat kepolisian.

Setelah beberapa menit adu mulut dan saling dorong antar masa aksi dengan aparat kepolisian, massa aksi kemudian membubarkan diri.

Selain itu, Jurnalis media online, lentera.co.id yang saat itu sedang melakukan tugas jurnalis juga di represif, di tangkap dan di tanyai dengan cara-cara kriminalisasi oleh aparat kepolisian.

BACA Tak Penuhi Hak Buruh, Mahasiswa Demo Protes PT. NPI

Tak hanya melakukan melakukan tindak represif terhadap massa aksi di depan kantor cabang Toyota Ternate, oknum aparat kepolisian juga mengatakan tidak lagi menerima dan mengijinkan aksi-aksi selanjutnya dari mahasiswa.

Saat di konfirmasi Juru Bicara Serikat Buruh Demokratik Kerayatan (SEDAR) dan Humas Aksi Komite Solidaritas untuk Perjuangan Buruh (KSPB) lewat via WhatsApp mengapreasiasi aksi solidaritas dari kawan-kawan mahasiswa terhadap buruh pemasok Toyota PT Nanbu Plastics Indonesia dan Family Mart di Ternate. Selain itu, dia juga mengecam pembubaran paksa yang dilakukan oleh Kepolisian terhadap aksi mahasiswa.

“Mahasiswa hanya memberikan solidaritas untuk buruh Indonesia yang hak-haknya dilanggar oleh pemodal Jepang. Buruh seharusnya tidak diperlakukan semena-mena di negerinya ini, karena berarti ini namanya penjajahan. Polisi seharusnya ikut membantu dengan mengamankan para mahasiswa agar tidak ada gangguan, bukan malah menjadi pengganggu,” tulisan Sarinah lewat via WhatsApp, pada Minggu 9 September 2018

Sarinah menambahkan, bahwa aksi mahasiswa sudah sesuai prosedur karena telah memasukkan surat pemberitahuan sesuai dengan UU No. 9/1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

“Aksi hari Minggu juga sudah sesuai dengan prosedur, karena kalau kita baca bagian Penjelasan Pasal 9 UU No. 9/1998, hari Minggu tidak termasuk dalam Hari-Hari Besar Nasional. Polisi sebaiknya belajar lagi UU dengan benar agar tidak semena-mena dalam menangkapi warga sipil,” ujarnya.

Sarinah mengatakan akan melakukan protes ke KAPOLRI,Tito Karnavian atas tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh bawahannya di Kota Ternate.

Red: Ajun

Komentar

Berita Lainnya