oleh

Reklamasi Vs Mimnyen

LENTERA.CO.ID — Penulis:Faizal Ikbal
(Kabid PTKP HMI Komisariat Fisip UMMU,
juga Mahasiswa Asal Patani).

Hembusan angin tak sedap kembali menerpa kecamatan Patani Utara, setelah beberapa bulan lalu publik digetarkan dengan isu destinasi pariwisata yang berpusat di pulau Sayafi dan Liwo. Dua pulau yang berhadapan langsung dengan desa Tepeleo dan Gemia, ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam saat bepergian ke pulau itu.

Usai minggat isu pariwisata, kini warga desa dikejutkan dengan topik hangat tentang reklamasi pantai dari pesisir Desa Tepeleo Kecamatan Patani Utara, dan Desa Kipai, Kecamatan Patani Selatan. Isu itu menuai kontroversi, ketika Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah mendorong proyek reklamasi dengan dalil: menumbuhkan kesejahteraan ekonomi dari aspek industri perdagangan ala kekotaan.

Kita tentu mendukung program pemerintah yang menempatkan kecamatan Patani sebagai pusat industri perdagangan Kabupaten Halmahera Tengah. Sebab, Patani dari letak geografis sangatlah dekat dengan Halmahera Timur. Patani bakal menjadi bandar perdagangan yang akan menopang sirkulasi ekonomi sehingga meningkat secara masif.

Reklamasi kawasan ekonomi di Desa Tepeleo Kipai telah masuk dalam kalender rincian kegiatan kontrak tahun jamak (multi years) dengan alokasi dana total 37. 815 000 000 (reklamasi desa tepeleo), Sedangkan alokasi dana untuk reklamasi kawasan ekonomi desa kipai kecamatan Patani Dana total 26 390 000 000. Proyek reklamasi kawasan ekonomi terpadu buat dua desa itu dibangun bertahap, terhitung 2018 hingga 2022.

Cita pemerintah menempatkan kawasan industri perdagangan di Patani sangatlah efisien serta efektif demi mengurangi kemiskinan dan berpotensi menyediakan lapangan kerja baru yang akan menekan lajunya kesejahteraan masyarakat. Namun dengan upaya untuk menimbun daerah basah menjadi kering (reklamasi) ditengah ketersedian lahan yang masih efektif di wilayah Tepeleo, maka tentu sangatlah naif.

Mimnyen, Pemulihan Patologi Sosial

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa reklamasi di bibir pantai dapat mengancam kelangsungan hidup biota laut yang hidup saling berdampingan. Uniknya, daerah yang menjadi lokus reklamasi itu terdapat spesis biota laut yang sangat langka yakni, Cacing laut (polychaeta) yang masyarakat Fagogoru menyebutnya Mimyen.

Jenis biota laut yang hanya terdapat dibeberapa daerah seperti di Halmahera Utara, Halmahera Timur dan Halmahera Tengah ini, muncul setahun sekali dan biasanya di bulan Mei. Mimyen atau cacing laut (polychaeta) dikenal sarat akan Proteinnya, tiga kali lebih banyak dari pada ikan.

Meski begitu, tidak semua daerah di Patani temukan cacing berwarna warni itu, hanya ada di Patani Utara, termasuk di Desa Tepeleo yang kini bakal di reklamasi.

Cacing laut (polychaeta) hidup dalam terumbu karang pada pantai tropis yang dekat dengan Samudera Pasifik. Umumnya, makanan bergizi itu akan muncul ketika dipengaruhi oleh siklus bulan dan matahari.

Di Indonesia sendiri ada beberapa daerah yang diketahui menjadi habitat biota laut tersebut, di antaranya Maluku dan Lombok. Salah satu ciri munculnya laor adalah terjadinya air pasang yang berwana keruh. (baca : Lipi, Joko Pamungkas).

Penelitian Laor juga di lakukan ketua sekolah Tinggi ilmu kesehatan (STIKES) Halmahera, dr. Arend Mapanawang tercatat, konsumsi mimnyen (Laor) yang di temukan dapat menurunkan kadar gula darah pada penderita dibetes meletus, kolestor, asam urat, kesehatan jantung dan pembuluh darah, selain itu berfungsi sebagai nutrisi bagi ibu hamil, suplemen makanan, mencegah penyakit degeneratif dan membantu kecerdasan nutrisi lengkap omega 3, omega 6, omega 9 serta asam amino. (Baca: Malut Post. Edisi 30 juli).

Tak dapat menafsirkan hubungan sosial berlangsung harmonis selama bertahun-tahun. Oleh karena manusia sendiri punya sentimen dalam hidup dan itu tidak bisa dihindari. Tatkala sentimen tersebut muncul akibat proses perampasan ruang hidup yang di rekayasa segelintir orang, ada pula terjadi secara Alamiah.

Begitu pun pemicu konflik yang kebanyakan hadir dari ruang politik, klaim tanah atas sepihak keluarga dan juga sederet penyebab lainnya, yang berakibat pada keretakan sosial atau patologi sosial.

Alhasil keluarga bercerai berai, adik dan kakak bermusuhan, tetangga rumah tak saling menyapa. Hubungan sosial yang tak sedap ini, justru diredam oleh solusi konflik yang agak Alamiah, sudah tentu upacara penangkapan Mimnyen (Laor) yang sudah digelakkan sejak moyang dan sampai saat ini masih tetap terjaga.

Bila Musim penangkapan cacing Laut tiba, warga desa dibangunkan dengan memukul tifa mengelilingi kampung oleh ibu-ibu Dusun tepat usai sholat subuh. Sontak, warga desa pun mengambil pajeko dan Sib-Sib (alat penangkap Laor, dalam bahasa Patani), Tua sampe yang muda tidak ada lagi sekte-sekte, masyarakat saling berbaur. Semuanya berbondong-bondong menuju bibir pantai.

Keramaian pun turut disaksikan lewat pesisir pantai dengan kelengkapan penangkap mimnyen bertebaran, biasanya kemunculan mimnyen ditandai dengan penglihatan kita pada bulu-bulu tangan, bila tidak samar lagi maka bersiaplah tercelup dalam air laut dan proses penangkapan mimnyen (laor) dimulai dengan mengejar mimnyen yang bertebaran di atas laut.

Kehadiran biota laut mimnyen, merupakan unsur peredam konflik kemanusian yang dibentuk secara alamiah. Disini kita mengamati mimnyen (laor) bukan hanya sebatas konsusmsi rumahan, tetapi juga merupakan pemulihan pertemanan sosial.

Pola hidup masyarakat yang terbuka ini, hanya ada pada masyarakat pesisir, salah satunya Indonesia dan bila dilihat dari bentuk geografis Indonesia memang negara kepulauan. Badan Pusat Statistik Republik Indonesia merilis data desa yang berada di daerah pesisir mencapai 8.090 desa dengan jumlah penduduk 16,4 juta orang.

Proposisi

Sungguh, proyek reklamasi terpaksa tetap di bangun dengan skema pembangunan yang modernis ini, sudah pasti mengancam falsafah hidup masyarakat. Perlahan masyarakat akan terpola dengan dinamika hidup yang materialis dan berujung pada individualistik, konsepsi kebudayaan fagogoru akan menjadi catatan kaki sejarah masa silam yang punah ditelan transformasi sosial dan politik.

Rencana pembangunan 100 ruko di atas Reklamasi pantai Tepeleo dengan niat menumbuhkan semangat ekonomi baru, mendatangkan investor dari luar akan berakibat pada mobilisasi sosial yang tidak beraturan dan berlahan mengikis peradaban dan kebudayaan fagogoru. Walahu’Alam.[]

Penulis: Reporter HALTENG,- IKEM

Gambar Gravatar
Reporter Biro Halteng, sekaligus Redaktur dan Pembimbing Media Omdesa.id

Komentar

Berita Lainnya