oleh

Pemuda dalam ‘Rayuan’ Kekuasaan

LENTERA.CO.ID

“Indahnya ‘Tanah Katarabumi’ ini,
kalau Pemuda masih tahu perjuangan.”

(Pramoedya Ananta Toer, 2000)

Percakapan imajiner, semoga menghibur:
“Tanya: apa untungnya anda merayu pemuda ? Jawab penguasa: Jelas, saya adalah lowongan, butuh tenaga kerja, terserah siapa yang mau melamar. Syaratnya sederhana, tidak terlibat sebagai pemuda idealis, memiliki sertifikat pragmatis. Tanya: Anda punya tahta dan kuasa, belum cukup kah ? Jawab penguasa: Justru itu, saya butuh pemuda karlota (‘banyak ngomong’), siapkan retorika jika saya diserang. Kuasa itu berdiri di atas alas pijak yang keras, dipagari oleh kawat berduri.Tenaga kerja yang profesional mengurus ini adalah pemuda. Wajar dong, mereka kenyang, saya harus kuat, bukan !! No free lunch, anak muda, kata si monetaris, Milton Friedman. Tanya: Lalu, apa yang paling anda khawatir dari seorang pemuda? Jawab penguasa: hanya satu, pemuda MERDEKA. Itu kemewahan yang tidak bisa saya tandingi, sekalipun dengan tahta dan kuasa.”

Bertajuk ‘Melawan Bungkam’, Najwa Shihab (2015) berepilog ‘sangat tidak mudah berkata TIDAK, ketika kekuasaan tergila-gila berkata YA.

Pemuda ‘Hidung Belang’ dan Konsolidasi yang Tersumbat

Pada sebuah artikelnya, berjudul ‘Rahim Laki-laki’, Rocky Gerung (2011) berusaha menyerang patriarkisme yang dinobatkan sebagai pengendali komunikasi, hierarkis, hegemonis, sehingga menghasilkan peradaban yang eksploitatif. Pada awalnya, rahim perempuanlah yang melahirkan manusia, tetapi rahim laki-laki yang mengasuhnya. Perspektif ini dapat dirujuk untuk menafsir gerak pemuda dalam lingkar kekuasaan. Bisa iya, bahwa pada awalnya pemuda dilahirkan dari rahim pergulatan historis-ideologis, tetapi kemudian dirawat dalam rahim kekuasaan yang destruktif.

Dan kekuasaan, karena tubuhnya yang terlampau ‘seksi’, tidak jarang berhasil ‘menaklukan’ pemuda-pemuda ‘hidung belang’. Dalam perspektif sosiologis, pemuda ‘hidung belang’, di mana-mana selalu saja menabrak konvensi-konvensi etis, tidak punya daya mental sehingga berujung pada tabiat senang ‘kompromi’ demi libido pribadi dan komunal. Jika ini soalnya, gerak pemuda tidak lebih sebagai ‘urusan komunal’ yang menopang dan memperlancar urusan ‘kuasa dan konglomerat’.

Dalam pembacaan seperti itu, maka pemuda tidak dapat mempraktikan peran historis, ideologis, dan kultural-nya. Pemuda ‘terancam’ membangun brand trust sebagai lokomotif perubahan di daerah. Demikian, karena gerak pemuda cenderung tersandera oleh kultur ‘kelas atas’. Nilai-nilai kepemudaan terdengar lantang di forum diskusi, tetapi cenderung membeku pada realitas. Oleh Stephen Robbins (2003), kultur berperan penting dalam mengidentifikasi tujuan bersama, dari pada tujuan personal. Dengan begitu, maka kultur berfungsi merawat konsolidasi, merekatkan pemuda dalam satu komitmen nilai-nilai.

Bagaimana dengan Pemuda di Tanah Katarabumi ? Kita tidak berharap ada ruang ‘bergaul bebas’ untuk pemuda ‘hidung belang’. Mari berani jujur, hari-hari ini kita diperhadapkan dengan gejala semacam itu. Sebuah gejala ‘patalogi’ pergerakan yang mendistorisi kekuatan-kekuatan etik dan moral kepemudaan.

Pemuda. Apanya ?

Di zaman ‘Minke’, pemuda mengenal, sadar siapa musuh, mereka sudah selesai dengan urusan ‘isi perut’, mereka bergulat di dalam situasi untuk sesuatu yang dihayatinya sebagai PEMUDA. Sekarang, semacam gejala ambiguitas, pemuda ‘Minke’ dalam telinga kolonialis adalah revolusi, mungkinkah di telinga ‘neokolonialis’ hanyalah ‘gaya hidup’? Sebagaimana ‘gaya hidup’, pemuda tidak lebih sebagai merek sebuah ‘produk’. Dalam doktrin marketing, gaya hidup merupakan salah satu variabel penjelas dalam membaca perilaku pembeli. Jika kata ‘pemuda’ kita posisikan sebagai sebuah ‘produk’, maka kita berusaha ‘membelinya’agar merepresentasi sebuah ‘gaya hidup’ yang kita gandrungi. Katakanlah, jika menjadi ‘pemuda’, kesannya akan lebih ‘elitis-intelek’, sebuah ‘gaya hidup’ yang memiliki ‘daya tawar’ dengan ‘orang-orang besar’. Artinya, di situ ada ‘selubung simbolik’, hal mana terbaca ketika gaya ‘elitis-intelek’, beroperasi membungkus ‘gaya-gaya’ yang lain, seperti ‘gaya menganggur, gaya kere, dan sejenisnya’. Dengan alas tafsiran seperti itu, maka pemuda adalah ‘topeng’, tidak autentik, memilih menjadi pemuda karena ‘ada apanya’, bukan karena ‘apa adanya’. Semakin kuat keinginan untuk menjadikan pemuda sebagai ‘gaya hidup’, sekuat itu pula kita ‘lengah’ terhadap derasnya ‘rayuan’ kekuasaan.

Dengan sentuhan ‘dekonstruksi’, kita berusaha mencari makna yang lebih ‘hidup’ tentang sesuatu yang dinamakan ‘Pemuda’. Pemuda, bukan tentang ‘rentang usia’, bukan pula menanda pada ‘organisasi kepemudaan’. Pemuda adalah mentalitas. Orang tua, juga anak remaja, kenapa bisa bertingkah ‘alay’, padahal yang satu (baca: orang tua) tidak jarang sudah menembus usia 50-an, sedangkan anak remaja, kenapa kesannya menjadi ‘beban’ jika dinobatkan sebagai pemuda ?. Karena mereka cenderung masih punya ‘ketergantungan’ terhadap yang lain (baca: belum mandiri). Dalam bacaan seperti itu, pemuda yang bermodal usia, bisa jadi lebih ‘alay’ dari remaja, bisa lebih tidak bersemangat dari ‘orang tua’. Tidak sedikit juga orang tua, atau pun remaja yang bermental pemuda.

Mentalitas itu yang oleh Pramoedya Ananta Toer menandainya dengan keberanian, oleh Tan Malaka adalah idealisme, dan motor revolusi oleh Benedict Anderson. Dan saya meramunya dengan satu istilah, ‘Pemuda Merdeka’. Jelasnya, mentalitas rupa ini tidak jatuh dari langit, tetapi ditempa, dibentuk oleh situasi. Onghokham, dikutip Yudhistira (2014) menyimpulkan bahwa tentang pemuda, rasanya lebih ‘hidup’ jika diresapi sebagai bentukan suasana zaman. Dalam situasi itulah, mereka memilih terlibat, gagasan disemai, dan gerakan dimulai. Sebuah situasi yang melawan pada hegemoni kekuasaan, menindas, situasi yang tidak memberi tempat pada ‘penjilat’ tubuh APBD.

Pemuda ‘Merdeka’; Sebuah Daya Etik Pergerakan

UU No. 40 Tahun 2009, menegaskan dengan begitu ketat, bahwasanya kepemudaan dibangun berdasarkan asas Ketuhanan Yang Maha Esa, ‘bukan yang maha banyak’ (baca: relasi kuasa), kemudian demokratis, keadilan, dan partisipatif, ‘bukan demagogis’, selanjutnya kemanusiaan, kebangsaan, kebhinekaan, kebersamaan, kesetaraan, dan kemandiran, ‘bukan ke-komunal-an’, dan pembangunan kepemudaan bertujuan terwujudnya keberimanan-taqwa, berdaya saing, dan berjiwa kepeloporan.

Apa yang harus tersedia untuk sampai ke sana ?. Dalam bacaan saya, pemuda harus memilih ‘Merdeka’ semenjak dari pikiran hingga perbuatan.

Pad titik ini, saya berusaha ‘menyentuh’ ulasan Penalar inklusif, Nurcholish Madjid tentang ‘Kemerdekaan Individu dan Keharusan Universal’. Saya berusaha menangkap pesan filosofis yang dapat dirujuk sebagai sudut pandang membangun mentalitas kepemudaan. Kembali, jika anda sebagai pemuda punya kesempatan untuk ‘menghisap’ kantong pejabat, apakah anda akan melakukannya ? Untuk pemuda ‘pragmatis’, dia ‘menyerah’ (baca: melakukan), karena entah bagaimana, kesempatan seperti itu dideduksikan sebagai ‘rejeki’. Sementara pemuda merdeka, tidak sama sekali membangun relasi dalam kondisi ‘penyerahan’, karena situasi seperti itu menghasilkan hubugan perbudakan. Yang lain, katakanlah anda ‘hobi’ melindungi pejabat korup, lalu anda berkilah bahwa itu ‘kemerdekaan’ anda. Justru itu adalah bentuk perbudakan yang anda kemas dengan istilah-istilah bebas berbuat, bebas membela adalah hak, dan sejenisnya. Sama halnya dengan neoliberalisme-neokolonialisme yang terlihat suci dalam bungkusan bermerek ‘pancasila’ (Baca: Ekonomi-Politik Orba).

Pemuda ‘Merdeka’, memang tidaklah ‘gratis’. Banyak tantangan, tetapi itulah yang harus kita pilih sebagai titik tumpu dan daya etik pergerakan. Nurcholish Madjid, dalam karyanya ‘Islam Doktrin dan Perdaban’, kita temukan satu ‘pesan teologis’ dalam membangun mentalitas pemuda, ‘Kita diberi dua jalan; jalan kebaikan dan jalan keburukan. Jalan kebaikan selalu diuji dengan tantangan. Siapa pemuda yang menghindari tantangan, dia dibeli murah oleh perbudakan’.

Sampai di mana Pemuda itu harus merdeka ?Antara kita dan Keharusan Universal adalah pencapaian kemerdekaan. Begitu Nurcholish Madjid menyebutkan “Kita tidak dapat bicara mengenai takdir suatu kejadian SEBELUM suatu kejadian menjadi kenyataan”. Kita rentangkan sikap ‘Merdeka’ itu sampai pada kata ‘SEBELUM’, sebagai konsekuensi dari pengakuan terhadap Keharusan Universal. Artinya pemuda harus selalu merdeka sepanjang masih diperhadapkan dengan kondisi-kondisi yang mendominasi dan hegemonik. Bagaimana takdir kita, daerah, bangsa ini ke depannya, harus dibaca dan dihadirkan sebagai hasil kulminasi dari usaha-usaha merdeka kaum muda.

Ada elit korup menanti di luar sana, Wakil Rakyat berpose laiknya ‘Bos Rakyat’, orang miskin ‘terjebak’ di bawah pertumbuhan ekonomi, petani yang sedang ‘terbungkam’ oleh kerakusan pasar, hingga kades ‘berkepala batu’ yang hobi ‘main’ kuasa. Bagaimana bisa kita ‘terlibat’ dalam situasi semacam ini, jika mentalitas pemuda selalu terbungkam oleh seksinya ‘rayuan’ kuasa.

Demikian, dalam rangka mengawal agenda-agenda kerakyatan, maka pemuda ‘merdeka’ perlu diterjemahkan ke dalam apa yang saya istilahkan sebagai ‘oposisi autentik’, sebagai kontrasnya adalah ‘oposisi isi perut’. Sejatinya, ber-Pemuda itu tidak ‘digaji’, di sana juga bukan ‘rumah makan’. Dalam perspektif ‘smithian’, memilih ber-Pemuda, berarti memilih untuk ‘derita’. Lalu untuk apa kita harus memilih ada di sana ??? Teringat pada lariknya Aan Mansur, yang dikirim Rangga untuk Cinta, ‘Lihatlah tanda tanya itu, jurang antara idealisme dan pragmatisme disaat meminangmu, Pemuda’.

Pemuda ‘Merdeka’ merupakan sebuah daya etik pergerakan. Kita punya petunjuk-petunjuk empiric, bahwa daya ‘pintar’ semata tidak kebal menahan ‘rayuan’ kuasa. Saya menafsir, kira-kira ini yang sudah lama bergulat dalam pribadi Soekarno, bahwasanya ‘musuh’ terberat datangnya dari ‘lingkungan kekuasaan’ bangsamu sendiri. Tanpa menjadi Merdeka, rasanya sulit menemukan pemuda, yang mudah kita temukan adalah ‘pengurus organisasi kepemudaan’. Pramoedya, tidak sedang mengigau; indahnya ‘Tanah Katarabumi’ ini, kalau pemuda masih tahu perjuangan. Salam Pemuda. MERDEKA

Maslan Adam*

*Penulis, Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) – Indonesia

Penulis: Reporter Sofifi-Ternate,- HARYANI H Y

Gambar Gravatar
JUNAIDI adalah Reporter Biro TERNATE-SOFIFI sekaligus Redaktur dan Pembimbing Omdesa.id di SOFIFI/TIDORE

Komentar