oleh

Bagun Paradigma Intelektual Fagogoru, ini kata Wabub Halteng

TERNATE.LENTERA.CO.ID — Pelantikan dan Rapat Kerja (Raker) Ke-VIII Himpunan Pelajar Mahasiswa (HIPMA) Patani Maluku Utara (Malut) dihadiri Wakil Bupati Halmahera Tengah (Halteng), Abdurahim Ode Yani untuk menyampaikan sambutan pada Ahad, 4 Maret 2018 di Aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Kota Ternate.

Kegiatan yang bertajuk “Meretas Paradigma Intelektual Dalam Frem Fagogoru”, kata Wabub Abdurahim dalam sambutannya mengatakan, bahwa tema pelantikan ini cukup menantang dan mendorong kita untuk melihat paradigma dalam perspektif Fagogoru.

Secara teoritik, menurutnya, paradigma merupakan cara pandang orang terhadap diri dan lingkungan yang akan mempengaruhi pola pikir (Kognitif) pola sikap (afektif), dan pola laku (konatif). Karena itu, lanjut Wakil Bupati Halteng bahwa perspektif tersebut merupakan bagian dari asumsi, konsep, nilai dan praktik untuk memandang realitas pada komunitas yang sama termasuk dalam disiplin intelektual. Fagogoru sekadar dilihat dalam satu perspektif yang kaku seperti bakusayang. Namun, Fagogoru memiliki arti yang cukup luas dalam menembus batas ruang dan waktu.

Ia menyatakan, beberapa ratus tahun lalu, leluhur Fagogoru telah merumuskan nilai-nilai kemanusian yang menjadi falsafahnya. “Ngaku Rasai, Budi Bahasa, Sopan Hormat, Matet Moymoy” sebagai landasan filosofi masyarakat Fagogoru. Olehnya, falsafah Fagogoru ini dijadikan nilai untuk menjaga kelangsungan hidup generasinya. Nilai tersebut memiliki arti yang universal dan telah melampaui zamannya, bahkan nilai itu yang menjadi perekat utama kesamaan rasa dan persatuan masyarakat Fagogoru hingga saat ini. Hidup tanpa memiliki rasa persaudaraan, tanpa berbuat budi antar sesama, tanpa hormat menghormati, tanpa rasa malu atas tindakan yang salah, maka dititik itu sebenarnya kehidupan manusia tidak berjalan normal. “Manusia Fagogoru harus merasa bangga dengan sistem nilai yang dia miliki,” ungkapnya.

Disamping itu, Abdurahim menuturkan falsafah ini merupakan satu ajaran yang seharusnya membentuk perilaku dan cara pandang hidup setiap orang Fagogoru. Kita (masyrakat-red) diajarkan untuk mengenal diri dan lingkungannya. “Nilai ini yang akan membimbing kehidupan yang kita bangun dari waktu ke waktu, sehingga tercipta rasa damai, aman, adil, dan sejahtera” ujarnya.

Selain itu, dia mendeskripsikan globalisasi sebagai era baru yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sebagai ikon dunia saat ini. Zaman terus mengalami perubahan hingga saat ini masuk dalam era milenial. Orang yang tidak siap dengan perubahan tersebut akan ditinggal zaman. Bagaimana supaya kita bisa siap? tanya Abdurahim dihadapan mahasiswa, Tentu pendidikanlah jawabannya. Karena itu, Dia mengatakan bahwa pendidikan memegang peran penting untuk membentuk karakter generasi Fagogoru yang handal dan tanggap menerima tantangan perubahan. “Pendidikan akan menentukan maju mundurnya suatu peradaban manusia Fagogoru” tuturnya.

Red: Mail

Komentar

Berita Lainnya